Selasa, 18 Mei 2010

Anak Berkebutuhan Khusus Ikut UN

Riski Nurilawatl tak bisa konsentrasi penuh mengikuti Ujian Nasional (UN). Ia merasa tak nyaman. "Saya grogi," ujarnya berterus terang. Berbeda dengan siswa lainnya, . Riski mengikuti ujian didampingi seorang guru pendamping. Sebelum membubuhkan jawaban, ia perlu mendengarkan lebih dulu pertanyaan soal ujian yang dibacakan pendampingnya. Tidak jarang ia minta dibaca ulang karena kalimatnya panjang-panjang sehingga susah mengingatnya.

Bagi Riski, itu cara yang justru membuatnya lebih cepat mengerjakan soal. "Tapi, saya lebih senang soal dengan huruf braille," ucapnya. Riski memang seorang tunanetra yang mengikuti UN 2010 di SMAN 10 Surabaya.
Toh. bungsu dari empat bersaudara ini menyadari bahwa UN memakai huruf braille memang akan memakan waktu lama. "Kalau boleh, sebaiknya kedua cara itu (braille dan dibacakan) dipakai karena dengan baca sendiri akan lebih mantap," usulnya.

Saat mengikuti UN pada hari pertama, Senin (22/3), Riski merasa pertanyaan untuk soal bahasa Indonesia cukup panjang. "Jawabannya juga mirip-mirip," ujar lulusan SMP YPAB Gebang, Surabaya, itu sebagaimana dilansir Antara, Selasa (23/3). Ketika ditanya apakah perlu tambahan waktu bagi penyandang cacat dalam UN, gadis kelahiran Surabaya, 20 Januari 1992, itu mengaku segan.

"Mungkin, nggak ya karena kakak kelas yang cacat juga nggak ada tambahan waktu." kata Riski yang ingin melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. Riski bukan satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang mengikuti UN 2010 di SMAN 10 Surabaya. Ada juga Ningsih Wardani, seorang penyandang tunarungu. Keduanya memang siswa kelas akhir di sekolah tersebut.

Kepala SMAN 10 Surabaya, Drs HM Sukron AP MM, mengatakan, keduanya memang siswa di sekolah ini sejak kelas satu. SMAN 10, kata dia, ditunjuk Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai sekolah inklusif yang menerima penyandang cacat.

Untuk itu, Riski mengikuti UN dengan soal ujian dibacakan seorang pendamping, sedangkan Ningsih dengan pendamping bahasa isyarat. "Khusus Ningsih sebagai penyandang tunarungu dibebaskan untuk ujian listening bahasa Inggris," tuturnya Suasana serupa tampak di

sekolah inkulsif SMA Muhammadiyah 6 Solo. Di sekolah ini, ada Dwi Yuli T, seorang siswi penyandang tunadaksa. Han kedua pelaksanaan UN, Dwi tampak di ruang ujian dengan kaki kiri berada di atas meja. Tak jauh dari tempat duduknya, ada dua orang pengawas ujian. Meski sebagai siswa berkebutuhan khusus, Dwi tidak mendapatkan perlakuan khusus dalam hal materi ujian. Kepala SMA Muhammdiyah 6. Romlah, mengatakan, Dwi tidak diperlakukan istimewa. "Dia mendapat soal dan jatah waktu yang sama dengan siswa lain," tuturnya.

Tapi, berbeda dengan siswa lain, pengawas selalu bersedia membantu jika ia mengalami kesulitan. "Kemarin, dibantu pengawas karena terlalu lama mengisi nomor dan nama," ujar Romlah. Di SMA tersebut, terdapat belasan siswa berkebutuhan khusus yang mengikuti UN. Hanya Dwi siswa yang tunadaksa. Selebihnya, siswa tunalaras.

Menurut Romlah, siswa tunalaras tidak mendapat pendampingan. Mereka hanya diawasi oleh pengawas ujian.
Hal yang sama juga terjadi di SLBB Yayasan Rehabilitasi Tunarungu Wicara. Solo. Di sekolah ini, ada Anggres, seorang siswa tunarungu yang mengikuti UN.

Pada hari kedua UN dengan pelajaran bahasa Inggris, Anggres tidak didampingi seorang pendamping khusus. Hanya ada dua pengawas yang siap memberikan bimbingan jika Anggres membutuhkan. Soal yang ia kerjakan pun berbeda dengan soal yang dimiliki siswa lain. Jika di sekolah reguler soal bahasa Inggris dilengkapi soal listenm. Anggres hanya mengerjakan soal tulis. Menurut Sri Sumarsih, ketua panitia ujian di SLB tersebut, soal yang dikerjakan Anggres memang berbeda dengan siswa lainnya. "Kekayaan bahasa mereka minim, jadi dibuatkan soal yang lebih Simpel," ujarnya. iniyl. ad burhan



sumber : http://bataviase.co.id/node/145799
26 Mar 2010,*Pendidikan* Republika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar