Selasa, 18 Mei 2010

Dibutuhkan Peradilan Khusus Anak

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Hukum dan HAM diminta membentuk sistem peradilan khusus untuk anak, terpisah dari sistem untuk orang dewasa. “Sebaiknya anak yang terkait kasus hukum tidak melalui proses peradilan karena penjara tidak baik untuk perkembangan anak,” kata pendiri Lembaga Advokasi dan Pemberdayaan Pekerja Anak (LAPA), Apong Herlina, di Jakarta, Selasa.

Ditemui pada seminar sehari RUU Sistem Pemasyarakatan bertajuk “Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak dalam RUU Sistem Pemasyarakatan”, Apong menjelaskan selama ini kebanyakan anak yang melakukan tindakan melawan hukum berusia 12-18 tahun.

Pada usia seperti itu, katanya, anak sedang dalam masa mencari jati diri dan mencoba-coba. Jika ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan untuk dewasa karena tidak adanya tempat khusus yang bisa menampung mereka, dikhawatirkan mereka akan meniru tindakan negatif napi dewasa atau dieksploitasi secara seksual.

Apong mengusulkan agar anak-anak yang melakukan kenakalan tertentu seperti mencuri sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan restoratif. Dalam konsep restoratif, proses penanganan suatu tindak kejahatan dilakukan dengan cara mempertemukan semua pihak terkait yakni pelaku beserta keluarga, korban dan keluarganya serta unsur masyarakat. “Pihak-pihak itulah yang akan memutuskan konsekuensi apa yang harus dijatuhkan pada anak yang melanggar hukum tersebut,” katanya.

Dalam acara yang sama, Hakim Agung, Komariah Supardjaja, juga menyatakan persetujuannya terhadap wacana untuk memisahkan perlakuan hukum terhadap anak dan orang dewasa. “Anak butuh perlakuan berbeda, makanan berbeda dan sarana berbeda dari napi dewasa,” katanya.

Komariah menjelaskan, saat ini di Indonesia belum ada Undang-Undang yang secara spesifik mengatur hal tersebut sehingga para penegak hukum dan orang-orang yang peduli pada kepentingan anak sulit melakukan tindakan perbaikan terhadap perilaku anak yang melawan hukum.

Undang-Undang Perlindungan Anak Indonesia yakni UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (sedang direvisi) dan UU No 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak menyatakan bahwa penangkapan, penahanan dan pemenjaraan adalah upaya terakhir yang diaplikasikan pada anak. Namun, faktanya di Indonesia 90 persen anak yang berkonflik dengan hukum masih menjalani penahanan.(*z/an)


sumber : http://matanews.com/2009/07/14/dibutuhkan-peradilan-khusus-anak/
Tue, Jul 14, 2009 at 12:36 | Jakarta, matanews.com

Kemiskinan Pengaruhi Perilaku

Hidup miskin pada masa anak-anak dapat membentuk neurobiologi perkembangan anak, yang mempengaruhi perilaku dan kesehatan serta seberapa baik mereka bekerja pada masa dewasa.

Sejumlah peneliti AS menemukan apa yang mereka sebut “biologi kemalangan” di antara orang dewasa yang hidup miskin pada masa anak-anak, terutama jika mereka hidup miskin sebelum berusia lima tahun.

Menurut studi yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS), awal masa anak-anak merupakan saat penting untuk membangun arsitektur otak yang membentuk kondisi kognitif, sosial dan emosional anak di masa depan.

“Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi tidak menguntungkan kurang dapat menghadapi stres, dan ini ditunjukkan oleh hasil penelitian tentang kadar hormon, pencitraan syaraf otak dan penggambaran tingkat epigenetika,” kata Thomas Boyce dari University of British Columbia seperti dikutip AFP.

Para peneliti itu meneliti data lebih 1.500 individu yang lahir antara 1968 hingga 1975 yang diambil dari hasil penelitian demografi rumah tangga AS yang mengukur pendapatan keluarga setiap tahun selama masa anak-anak, tingkat pendidikan, dan tingkat yang dicapai dalam karir mereka, serta kesehatan dan kejahatan saat dewasa.

Mereka menemukan perbedaan mencolok pada bagaimana anak-anak itu hidup saat dewasa, tergantung pada apakah mereka miskin atau tidak sebelum berusia enam tahun.

“Dibandingkan dengan anak-anak yang keluarganya memiliki pendapatan sedikitnya dua kali dari garis kemiskinan selama awal masa anak-anak mereka, anak-anak miskin menyelesaikan sekolah dua tahun lebih lambat, bekerja 451 jam lebih sedikit per tahun, dan memiliki pendapatan kurang dari setengah.

Mereka juga menerima lebih dari 800 dolar setahun dalam bentuk kupon makan pada masa dewasa dan dua kali lebih mungkin untuk melaporkan kesehatan yang buruk secara keseluruhan atau tingkat penderitaan psikologis yang tinggi.

Anak-anak miskin juga lebih gemuk dibanding mereka yang tidak miskin, dan lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan pada masa dewasa.

Dan nasib malang berlanjut, dengan pria miskin dua kali lebih mungkin ditahan, sedangkan wanita miskin enam kali lebih mungkin memiliki anak di luar nikah dibanding mereka yang tidak miskin pada masa anak-anak. (*an/ham)


sumber : http://matanews.com/2010/02/23/kemiskinan-pengaruhi-perilaku/
Tue, Feb 23, 2010 at 06:30 | Jakarta, matanews.com

Cara Membuat Anak Berbicara

Kita sering merasa frustrasi menghadapi anak yang tidak mau menceritakan suka dukanya kepada kita. Ini tidak hanya terjadi pada anak-anak remaja, tapi juga yang masih balita. Nah, kenapa tak mencoba menerapkan salah satu dari 10 ide berikut agar buah hati mau bicara?

1. Jangan memaksa
Semakin kuat Anda memaksa mereka untuk berbicara atau bercerita, mereka akan semakin menutup diri. Bila Anda bersikap lebih santai, mereka mungkin akan lebih mudah mengungkapkan persoalan mereka.

2. Selalu ada buat mereka
Anak-anak cukup peka terhadap aktivitas Anda. Bila Anda tampak sibuk, mereka berusaha tahu diri. Tapi bila mereka melihat Anda punya waktu untuk Anda sendiri dan untuk mereka, mereka akan merasa nyaman berbicara dengan Anda.

3. Libatkan diri
Coba mulai melibatkan diri dengan cara beraktivitas bersama mereka. Misalnya, ikut bermain basket, main monopoli, bersepeda. Dengan bermain bersama, kemungkinan saling bercerita makin terbuka.

4. Tidak bersikap menghakimi
Bila Anda bersikap menghakimi pada saat mereka berbicara, di lain waktu mereka pasti tidak berminat untuk menceritakan apa yang mereka alami pada Anda. Tunjukkan keingintahuan dan rasa penasaran Anda pada apa yang mereka ceritakan dan usahakan tidak memberi komentar “benar” atau “salah”.

5. Kiat bertanya
Pertanyaan yang dimulai dengan kata “Mengapa”, cenderung menciptakan pertahanan diri. Pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak”, tidak akan memberikan respons yang banyak. Belajarlah menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menstimulasi pembicaraan semisal, “Apa yang kamu perhatikan dari lukisan itu?” merupakan pancingan yang lebih baik daripada, “Kamu senang atau tidak dengan lukisan itu?”

6. Mobil sebagai tempat untuk ngobrol
Saat mengantar atau menjemput mereka ke sekolah atau ketika bersama-sama ke suatu tempat, ajak mereka berbicara. Di dalam mobil, kecil kemungkinan bagi Anda dan anak untuk mendapat gangguan seperti tamu yang tiba-tiba datang atau ia cuma asyik di depan komputer atau tv.

7. Beri respons
Mengetahui Anda mendengarkan dan memerhatikan apa yang mereka ceritakan, akan membuat mereka merasa mendapat dukungan dari Anda dan membuat mereka bersemangat untuk bercerita lebih banyak lagi.

8. Libatkan dengan hobi anak
Ajak anak berbicara pada saat mereka sedang menggambar, mewarnai, atau melukis. Cara ini cukup ampuh untuk anak-anak Anda yang masih kecil. Lewat aktivitas yang dapat membuat mereka mengekspresikan diri, juga akan memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan pada Anda. Dengan menggabungkan diri pada kegiatan tadi, Anda menjadi lebih peka untuk berbagi cerita dengan anak.

9. Sediakan kesempatan untuk bersenang-senang
Bila anak merasa Anda menyediakan waktu beraktivitas bersama mereka, apapun kegiatannya, percayalah, mereka akan dengan senang hati berbagi cerita dengan Anda. Tapi jangan lupa, jadilah pendengar yang baik.

10. Jadilah orang tua dan teman bagi mereka
Bila Anda dapat bersikap sebagai orangtua dan teman pada saat mereka bercerita, hal ini dapat memelihara keinginan anak untuk selalu berbagi cerita dengan Anda. Jangan bersikap kaku dan sok jaga wibawa. (*an/ham)

sumber : http://matanews.com/2010/01/12/cara-membuat-anak-berbicara/
Tue, Jan 12, 2010 at 06:53 | Jakarta, matanews.com

Cara Cepat Diagnosa Kanker Otak Anak

Para dokter di Inggris telah mendapatkan pedoman baru mendiagnosis tumor otak pada anak-anak guna mengatasi keterlambatan dalam perawatan. Para spesialis telah menghasilkan serangkaian rekomendasi untuk dokter dan rumah sakit pada saat mempertimbangkan tes apa yang diperlukan untuk tumor otak.

Diagnosis bagi anak-anak di Inggris sekarang memakan waktu tiga kali lebih lama daripada di Amerika Serikat, Swiss dan Polandia. Padahal, pengobatan yang tertunda meningkatkan risiko komplikasi yang dapat mengancam jiwa si anak.

Sekitar satu dari 600 anak di bawah usia 16 tahun didiagnosis kanker, seperempat dari mereka memiliki tumor tulang belakang atau tumor otak.

Diperkirakan 60% anak-anak yang bertahan hidup dengan tumor otak kiri dan kecacatan akan mengalami perubahan kondisi tubuh, seperti kehilangan penglihatan. Penundaan dalam perawatan bisa berakibat fatal dan menyebabkan gejala dan komplikasi yang lebih parah.

Tim ahli dari Birmingham, Nottingham dan Southampton, mengatakan, terlepas dari ketersediaan scan, banyak anak di Inggris yang tidak sehat selama berbulan-bulan sebelum mereka menerima diagnosis.

Mereka mengatakan banyak keluarga anak-anak dipengaruhi oleh tumor otak baru mendapat diagnosa ketika mereka mengetahui sesuatu yang salah.

Panduan untuk mendiagnosis tumor otak di bawah usia 16 tahun umumnya dilakukan tanpa melihat akar penyebab masalah.

Kini para dokter wajib memaparkan gejala-gejala kanker otak dan apa yang perlu dilakukan untuk tes lebih lanjut. Anak-anak yang berisiko lebih rendah terkena tumor pun harus diperiksa oleh seorang spesialis dalam waktu dua minggu dan wajib di-scan dalam waktu empat minggu.

Para peneliti mengatakan waktu rata-rata untuk diagnosis di Inggris adalah sekitar 14 minggu tetapi mereka ingin agar Inggris menjadi setara dengan negara-negara dengan yang dapat mendiagnosis dalam waktu lima minggu.

Profesor David Walker, dari Brain Tumor Children’s Research Centre di Nottingham mengatakan diagnosis juga kadang-kadang tidak menjawab gejala yang datang dan pergi.

Dr Pam Kearns, peneliti Cancer Research UK dari Universitas Birmingham, berkata: Kami menyambut pedoman baru tersebut untuk mendiagnosis tumor otak pada anak. Tahap berikutnya adalah penting untuk memastikan bahwa pedoman ini dapat digunakan secara luas. Pedoman ini akan membantu mempercepat diagnosis dini tumor otak pada anak-anak.(*st/z)

sumber : http://matanews.com/2010/04/10/cara-cepat-diagnosa-kanker-otak-anak/
Sat, Apr 10, 2010 at 20:23 | Jakarta, matanews.com

Pendidikan Didominasi Otak Kiri

Kondisi pendidikan moderen saat ini cenderung didominasi fungsi otak kiri sebagai akibat ketatnya persaingan memasuki sekolah mulai strata TK hingga universitas.

Pandangan itu dikemukakan Guru besar Fakultas Kedokteran Unpad, Prof Dr A Purba dr MSc AIFO pada seminar Optimalisasi Fungsi Otak Kiri dan Otak Kanan Untuk Mempersiapkan Anak Yang Cerdas dan Kreatif yang diselenggarakan Ikatan Istri Dokter Indonesia di aula Pemkot Manado, Sabtu.

Purba mengatakan dominasi otak kiri dalam pendidikan terjadi mengingat ketatnya persaingan memasuki sekolah di tingkat TK sampai dengan perguruan tinggi, sehingga dari hari ke hari siswa diberi tambahan sekolah privat.

Kemudian akibat kondisi ekonomi yang buruk sehingga anak memilih sekolah yang menjamin kehidupan secara ekonomi lebih baik, akibatnya anak dididik menjadi lebih materialistis.

“Akibat persaingan tersebut ada anak bunuh diri karena ketidakmampuan orang tua. Jiwa anak tidak stabil karena fungsi otak kanan dan otak kiri tidak seimbang,” kata staf ahli Mendiknas tersebut.

Purba mengatakan, pada awal kehidupan yang aktif adalah otak kanan hingga umur lima sampai empat tahun. Sedangkan otak kiri mengikuti perkembangan otak kanan.

“Studi kompetensi belum diberikan kepada anak yang usianya kurang dari lima tahun atau TK, tetapi yang terjadi sekarang anak di bawah lima tahun diberi pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika,” katanya.

Purba mengatakan tidak dilarang memberikan pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika kepada anak TK, tetapi penyampaian pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika harus disampaikan secara menyenangkan.

Akibat pola pendidikan yang keliru tersebut, ujar dia, anak dilatih berfikir cepat dan tidak sistematis, berbicara terbata-bata, anak cepat gugup, kesulitan menulis. “Sebaiknya pada usia ini ibu mendongeng sebagai pengantar tidur untuk mengembangkan imajinasi anak dan perasaan anak,” katanya.

Prioritas pembelajaran pada siswa TK adalah belajar berkomunikasi, belajar bersosialisasi, mengenal lingkungan di luar rumah dan mengenal kebersamaan kelompok, sehingga tidak bijaksana kalau TK dibebani kognitif.

Sedangkan pada siswa SD, ujar dia, para siswa lebih diutamakan untuk menunjang kemandirian yang mematangkan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.

Menurut Purba, proses pendidikan yang tidak tepat menyebabkan siswa kurang daya cipta, kurang imajinasi, menghasilkan generasi yang pandai mengkritik, pandai meniru dan miskin ide, tidak produktif dan tidak mempunyai kemampuan memberikan solusi komprehensif.

Menurut Purba, untuk meningkatkan fungsi otak kanan bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan anak bermain, memberikan mainan yang tidak lengkap, memberikan dongeng, lomba pidato, mengarang, mengikuti Pramuka, Osis dan lainnya. Sedangkan meningkatkan otak kiri dengan pendidikan formal dan nonformal. (*an/ham)

sumber : http://matanews.com/2009/10/03/pendidikan-didominasi-otak-kiri/
Sat, Oct 3, 2009 at 18:24 | Jakarta, matanews.com

10 Kebiasaan Buruk Perusak Kerja Otak

Otak merupakan bagian vital yang menjadi pusat dari kendali semua syaraf. Otak juga mengatur detak jantung, tekanan darah, gerakan otot,suhu tubuh, fungsi ingatan, emosi dan sebagainya. Untuk itu, otak perlu dijaga dengan baik, dan berikut beberapa perilaku atau kebiasaan yang dapat melemahkan daya kerja otak manusia:

Merokok
Merokok memiliki dampak yang mengerikan bagi otak. Zat-zat kimia beracun dalam rokok yang terhisap, misalnya karbon monoksida, dapat menghalangi kemampuan darah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh termasuk otak, mengakibatkan penyusutan otak secara cepat. Bayangkan, ketika otak menyusut, dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya, sehingga rawan menyebabkan penyakit Alzheimer. Selain itu, zat nikotin dalam rokok dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan meningkatkan kadar kolesterol buruk (LDL) dalam darah sehingga, transportasi lemak menjadi terganggu dan akhirnya menyumbat pembuluh darah. Akibatnya, dapat menghalangi transportasi oksigen dan nutrisi ke otak, dan ketika otak tidak mendapatkan oksigen maka dapat menyebabkan kematian.

Kurang Tidur
Ketika tidur, otak akan beristirahat dan memulihkan kemampuannya. Kurang tidur dalam jangka waktu lama akan mempercepat kerusakan sel-sel otak, dan membuat otak mati kelelahan.

Tidak sarapan pagi
Tidak mengkonsumsi makanan di pagi hari dapat menurunkan kadar gula dalam darah sehingga nutri yang mengalir ke otak juga berkurang, dan berakibat melemahnya kinerja otak.

Kadar gula terlalu tinggi
Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga menyebabkan otak menjadi kekurangan nutrisi dan ketidakseimbangan gizi tersebut akan mengganggu perkembangan otak.

Menutup kepala ketika tidur
Kebiasaan tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan buruk yang sangat berbahaya karena dapat meningkatkan konsentrasi zat karbondioksida sehingga menurunkan proses menghirup oksigen yang dapat menimbulkan efek kerusakan pada otak.

Terlalu banyak makan
Terlalu banyak makan dapat mengeraskan pembuluh otak karena terjadi penimbunan lemak pada dinding dalam pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan melemahnya kinerja otak terutama kekuatan mental.

Bekerja ketika sakit
Memaksakan otak untuk bekerja ketika sakit, dapat menyebabkan kelelahan berlebihan pada otak dan mengurangi efektivitas kerjanya sehingga dapat merusak otak.

Terlalu banyak menghisap polusi udara
Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia. Menghirup udara yang berpolusi atau terlalu lama berada di lingkungan dengan udara berpolusi dapat menurunkan suplai oksigen ke otak sehingga menyebabkan kinerja otak menjadi kurang efisien.

Jarang berbicara atau berkomunikasi
Komunikasi menjadi salah satu sarana untuk memacu kemampuan kerja otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu optimalnya fungsi kerja otak. Dengan berkomunikasi intelektual seseorang akan terlatih dan berkembang hingga membawa dampak bagus bagi otak.

Jarang berpikir
Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurangnya stimulasi pada otak dapat menurunkan kemampuan kerja sel-sel syaraf otak sehingga menyebabkan mengkerutnya otak, dan kinerja otak menjadi kurang maksimal. (*bn/ham)

sumber : http://matanews.com/2009/12/26/10-kebiasaan-buruk-perusak-kerja-otak/
Sat, Dec 26, 2009 at 01:16 | Jakarta, matanews.com

ADHD Bersumber di Otak

ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder) alias gangguan konsetrasi yang selama ini dituding sebagai salah satu jenis autis, ternyata bersumber dari gangguan neurotransmitter tertentu dalam otak.

Namun penelitian terbaru oleh National Institute on Drug Abuse (NIDA) yang dipublikasikan di jurnal American Medical Association, September lalu, belum berani memastikan penyebab gangguan ini, walau telah berhasil memetakan lokasi penyebab ADHD di bagian otak.

Penelitian soal ADHD pertama kali dipublikasikan George F. Masih pada 1902 silam. Namun meski telah lebih dari 1 abad, penyebab pasti ADHD belum sepenuhnya dipahami.

Hasil penelitian menunjukkan, ada banyak faktor mendasar dalam ADHD diantaranya kurangnya perhatian, impulsif dan hiperaktif. Penyebabnya dikaitkan dengan masalah genetik dan kerentanan neurobiologis. Tapi masalah dasar dianggap dalam gangguan neurotransmitter tertentu dalam otak.

Hasil penelitian NIDA menunjukkan bahwa transmisi dopamin, yakni sejenis zat kimia yang diperlukan untuk fungsi normal dari sistem saraf pusat, terganggu dalam beberapa jalur otak pada orang dengan ADHD.

Kesimpulan itu diambil Dr. Nora Volkow dan rekan membandingkan 54 foto otak orang dewasa dengan ADHD dan 44 orang dewasa tanpa gangguan.

Para peneliti menemukan bahwa otak dari orang-orang dengan ADHD, memiliki konsentrasi dopamin reseptor dan transporter yang berkurang, khususnya di daerah-daerah yang terlibat dengan imbalan dan motivasi, dan gangguan ini berhubungan langsung dengan keparahan kekurangan perhatian.

Temuan ini dapat menjelaskan mengapa anak-anak dan orang dewasa dengan ADHD mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas, ketika tidak ada hadiah langsung, namun mampu berkonsentrasi saat kegiatan yang mereka sukai atau yang dapat diselesaikan dengan mudah.

Para peneliti mengatakan hal itu mungkin juga menjelaskan mengapa pasien ADHD cenderung komplikasi dengan penyalahgunaan narkoba dan obesitas. “Jalur ini memainkan peran penting dalam penguatan, motivasi, dan dalam mempelajari bagaimana menghubungkan berbagai rangsangan dengan imbalan,” kata Volkow.

Dr Andrew Adesman, kepala pediatri perkembangan dan perilaku di Schneider Children’s Hospital di New York, menyetujui hasil studi tersebut. Ia menyebutkan, harus dilakukan penelitian lanjutan terhadap hubungan antara ADHD dan defisit dopamin di daerah tertentu dari otak pertengahan.

Namun ia menyatakan, meskipun ada kemajuan identifikasi penelitian pada otak pasien dengan ADHD, diagnosis klinis ADHD tetap satu, “ADHD tidak dapat didiagnosis dengan neuroimaging,” ujarnya.

Volkow mengatakan hasil penelitian mereka juga memperteguh kepercayaan untuk terus menggunakan obat stimulan dalam pengobatan ADHD, karena hal itu akan memperbaiki jalur dopamin dalam meningkatkan motivasi dan meningkatkan perhatian pada tugas-tugas kognitif. “Tapi penelitian ini harusnya juga menggugah semua orang untuk lebih perduli pada ADHD, terutama para guru dengan murid yang ADHD,” ujarnya.

Ia menyebutkan, salah satu masalah pada anak dengan ADHD adalah masalah motivasi. Para guru, ujarnya, dapat mencari cara untuk meningkatkan daya tarik dan relevansi sekolah bagi anak-anak ini. “Ini kesempatan besar untuk mengembangkan kurikulum yang jauh lebih menyenangkan dan menarik untuk anak-anak menderita ADHD,” tandasnya.

ADHD diperkirakan mempengaruhi tiga hingga tujuh persen dari anak-anak Amerika. Rata-rata, paling tidak satu anak di setiap kelas di Amerika Serikat membutuhkan bantuan untuk gangguan ini. Namun, lebih dari separuh anak-anak ADHD akan terus menampilkan karakteristik dari gangguan selama masa remaja dan dewasa. (*els/hn/bo)


sumber : http://matanews.com/2009/10/08/adhd-bersumber-di-otak/
Thu, Oct 8, 2009 at 21:07 | Jakarta, matanews.com

Ukuran Otak Anak Berbakat

Otak anak berbakat memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda dari anak dengan kemampuan normal, misalnya jumlah sel glial yang lebih banyak menentukan tingginya potensi memori dan kemampuan belajar.

Hal tersebut diungkapkan Pakar Pendidikan Prof Dr Conny Semiawan yang baru saja meluncurkan Buku “Kreativitas Keberbakatan” dan kemudian dibedah oleh sejumlah pakar lain seperti Pakar Filsafat Prof Dr Toeti Herati Roosseno, Pakar Pendidikan Prof Dr HAR Tilaar dan Sosiolog Imam B Prasodjo di Jakarta, Jumat.

Di otak Einstein, ada lebih banyak jumlah glial per neuronnya dari rata-rata orang biasa, yakni 73 persen lebih banyak dari 11 orang lain yang diteliti, ujarnya.

Neuron merupakan unsur dasar dari sistem susunan saraf yang jumlahnya sekitar 10 triliun dan dengan neuron yang istimewa ini manusia berpikir, mengingat dan mengalami emosi.

Namun neuron-neuron itu secara fisik dikelilingi oleh sel glial yang memperkaya neuron dan memperbaharui fungsi.

Selain secara morfologi, otak anak berbakat juga berbeda dari anak biasa dalam hal efisiensi neuron dan kecepatan keterhubungan internalnya dalam otak di mana mereka lebih mudah memahami hubungan antar berbagai komponen.

Otak anak berbakat juga 10 persen lebih cepat berfungsi daripada orang normal dan mampu menghasilkan sinyal-sinyal dalam jumlah besar serta lebih tinggi lalu lintas antara belahan otak kiri dan kanannya.

Otak anak berbakat juga lebih memiliki ketrampilan fokus sehingga lebih trampil dalam berpikir dan efektif mengolah informasi, selain itu juga lebih memiliki aktivitas elektris dan aktivitas kimiawi di otaknya.

Namun demikian, ujar Conny, hanya lima persen saja rata-rata otak manusia yang digunakan, hal itu karena bagian otak lainnya tidak mendapat rangsangan untuk berkembang optimal sehingga menjadi mati.

sumber : http://matanews.com/2009/06/20/ukuran-otak-anak-berbakat/
Sat, Jun 20, 2009 at 01:15 | Jakarta, matanews.com

Anak Berbakat Istimewa Perlu Pendidikan Khusus

Anak-anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa memerlukan layanan pendidikan khusus supaya potensi dan bakat mereka berkembang optimal.

“Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah. Tanpa pembinaan yang sistematis dan terarah, bangsa Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia terbaiknya,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa Nasional, Amril Muhammad, dalam seminar “Potensi Luar Biasa Sejuta Anak Cerdas Istimewa Indonesia” di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, pasal 5 ayat 4 undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional juga menyatakan bahwa warga negara yang mempunyai potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

“Perhatian khusus tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi tapi semata memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa supaya potensi peserta didik berkembang utuh dan optimal,” katanya.

Dia mengatakan Asosiasi Anak Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa Nasional yang terdiri atas penyelenggara sekolah, akademisi dan masyarakat memberikan beberapa rekomendasi terkait penyusunan cetak biru pengembangan pendidikan khusus untuk anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa.

Asosiasi antara lain menyarankan pemerintah melanjutkan program akselerasi yang sudah berjalan di sekolah-sekolah tertentu dan meningkatkan kualitas guru dengan menyediakan fasilitas pelatihan pendidikan khusus bagi anak cerdas istimewa.

“Di samping itu, perlu ada sekolah khusus yang mewadahi anak-anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa dalam segala bidang, tidak hanya akademik, tapi juga seni, olah raga, teknologi dan ketrampilan lain,” katanya. (*an/ham)



sumber : http://matanews.com/2010/02/24/anak-berbakat-istimewa-perlu-pendidikan-khusus/ ,Wed, Feb 24, 2010 at 00:13 | Jakarta, matanews.com

Sekolah Jangan Tolak Anak Inklusi

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh meminta sekolah umum tidak menolak siswa berkebutuhan khusus (inklusif) untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar layaknya peserta didik lainnya, karena tidak semua daerah telah memiliki sekolah khusus.

“Saya mengharapkan agar sekolah umum, terutama di daerah, memberikan kesempatan bagi anak-anak yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau sebaliknya memiliki potensi kecerdasan dan bakatt istimewa,” katanya saat membuka Rakor Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB) di Surabaya, Sabtu (20/1) malam.

Mendiknas mengingatkan, penolakan karena alasan akses bagi anak-anak inklusif sama saja dengan tindakan diskriminasi, sebab berbagai keterbatasan yang disampaikan pihak sekolah umum untuk bisa menerima anak inklusif sebenarnya bisa dicarikan solusinya.

“Harus dapat dimaklumi pula mengingat anak berkebutuhan khusus sebagian besar tinggal di pelosok desa-desa dan kecamatan, sedangkan keberadaan sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah khusus, seperti sekolah bagi anak-anak TKI, sekolah bagi anak di pulau-pulau terluar dan sekolah bagi anak Lapas hanya berada di kota/kabupaten,” katanya.

Karena itu, pada 2010 ini pemerintah terus memperluas implementasi program pendidikan inklusif pada tingkat SD, SMP, SMA dan SMK umum atau sekolah reguler sehingga anak berkebutuhan khusus yang tinggal di desa, kecamatan, berpeluang untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik lain di sekolah biasa/umum yang terdekat dengan tempat tinggalnya, katanya.

Selain itu, Kementerian Pendidikan Nasional akan mengakomodasi fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus dengan kelainan fisik baik dalam pembangunan sekolah baru maupun proses rehabilitasi gedung sekolah, katanya.

“Kami akan mulai tahun 2010 sehingga fasilitas bagi penyandang cacat seperti jalur khusus bagi kursi roda, kamar mandi khusus sudah menjadi satu paket dalam pembangunan sekolah baru ataupun rehabilitasi sekolah,” katanya.

Lebih lanjut Mohammad Nuh mengatakan, pemerintah akan memberikan perhatian khusus bagi pendidikan khusus yang termarginalkan melalui peningkatan alokasi anggaran bagi pendidikan khusus serta melakukan penataan manajemen pengelolaan sentra pendidikan khusus. (*an/bo)


sumber : http://matanews.com/2010/02/21/sekolah-jangan-tolak-anak-inklusi/
Sun, Feb 21, 2010 at 11:25 | Surabaya, matanews.com

Anak Berkebutuhan Khusus Ikut UN

Riski Nurilawatl tak bisa konsentrasi penuh mengikuti Ujian Nasional (UN). Ia merasa tak nyaman. "Saya grogi," ujarnya berterus terang. Berbeda dengan siswa lainnya, . Riski mengikuti ujian didampingi seorang guru pendamping. Sebelum membubuhkan jawaban, ia perlu mendengarkan lebih dulu pertanyaan soal ujian yang dibacakan pendampingnya. Tidak jarang ia minta dibaca ulang karena kalimatnya panjang-panjang sehingga susah mengingatnya.

Bagi Riski, itu cara yang justru membuatnya lebih cepat mengerjakan soal. "Tapi, saya lebih senang soal dengan huruf braille," ucapnya. Riski memang seorang tunanetra yang mengikuti UN 2010 di SMAN 10 Surabaya.
Toh. bungsu dari empat bersaudara ini menyadari bahwa UN memakai huruf braille memang akan memakan waktu lama. "Kalau boleh, sebaiknya kedua cara itu (braille dan dibacakan) dipakai karena dengan baca sendiri akan lebih mantap," usulnya.

Saat mengikuti UN pada hari pertama, Senin (22/3), Riski merasa pertanyaan untuk soal bahasa Indonesia cukup panjang. "Jawabannya juga mirip-mirip," ujar lulusan SMP YPAB Gebang, Surabaya, itu sebagaimana dilansir Antara, Selasa (23/3). Ketika ditanya apakah perlu tambahan waktu bagi penyandang cacat dalam UN, gadis kelahiran Surabaya, 20 Januari 1992, itu mengaku segan.

"Mungkin, nggak ya karena kakak kelas yang cacat juga nggak ada tambahan waktu." kata Riski yang ingin melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. Riski bukan satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang mengikuti UN 2010 di SMAN 10 Surabaya. Ada juga Ningsih Wardani, seorang penyandang tunarungu. Keduanya memang siswa kelas akhir di sekolah tersebut.

Kepala SMAN 10 Surabaya, Drs HM Sukron AP MM, mengatakan, keduanya memang siswa di sekolah ini sejak kelas satu. SMAN 10, kata dia, ditunjuk Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai sekolah inklusif yang menerima penyandang cacat.

Untuk itu, Riski mengikuti UN dengan soal ujian dibacakan seorang pendamping, sedangkan Ningsih dengan pendamping bahasa isyarat. "Khusus Ningsih sebagai penyandang tunarungu dibebaskan untuk ujian listening bahasa Inggris," tuturnya Suasana serupa tampak di

sekolah inkulsif SMA Muhammadiyah 6 Solo. Di sekolah ini, ada Dwi Yuli T, seorang siswi penyandang tunadaksa. Han kedua pelaksanaan UN, Dwi tampak di ruang ujian dengan kaki kiri berada di atas meja. Tak jauh dari tempat duduknya, ada dua orang pengawas ujian. Meski sebagai siswa berkebutuhan khusus, Dwi tidak mendapatkan perlakuan khusus dalam hal materi ujian. Kepala SMA Muhammdiyah 6. Romlah, mengatakan, Dwi tidak diperlakukan istimewa. "Dia mendapat soal dan jatah waktu yang sama dengan siswa lain," tuturnya.

Tapi, berbeda dengan siswa lain, pengawas selalu bersedia membantu jika ia mengalami kesulitan. "Kemarin, dibantu pengawas karena terlalu lama mengisi nomor dan nama," ujar Romlah. Di SMA tersebut, terdapat belasan siswa berkebutuhan khusus yang mengikuti UN. Hanya Dwi siswa yang tunadaksa. Selebihnya, siswa tunalaras.

Menurut Romlah, siswa tunalaras tidak mendapat pendampingan. Mereka hanya diawasi oleh pengawas ujian.
Hal yang sama juga terjadi di SLBB Yayasan Rehabilitasi Tunarungu Wicara. Solo. Di sekolah ini, ada Anggres, seorang siswa tunarungu yang mengikuti UN.

Pada hari kedua UN dengan pelajaran bahasa Inggris, Anggres tidak didampingi seorang pendamping khusus. Hanya ada dua pengawas yang siap memberikan bimbingan jika Anggres membutuhkan. Soal yang ia kerjakan pun berbeda dengan soal yang dimiliki siswa lain. Jika di sekolah reguler soal bahasa Inggris dilengkapi soal listenm. Anggres hanya mengerjakan soal tulis. Menurut Sri Sumarsih, ketua panitia ujian di SLB tersebut, soal yang dikerjakan Anggres memang berbeda dengan siswa lainnya. "Kekayaan bahasa mereka minim, jadi dibuatkan soal yang lebih Simpel," ujarnya. iniyl. ad burhan



sumber : http://bataviase.co.id/node/145799
26 Mar 2010,*Pendidikan* Republika