Senin, 26 April 2010

Komunitas Autis Bereaksi Terhadap Kasus Cho

Pittsburgh - Kabar bahwa Cho Seung-Hui, pelaku pembantaian di Universitas Virginia Tech, didiagnosa menderita autis sewaktu kecil mengundang reaksi dari komunitas autis di Amerika Serikat. Badan Autisme AS merasa perlu mengeluarkan pernyataan sikap soal itu.

Reaksi itu datang dari badan AutismLink and Autism Center of Pittsburgh seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/4/2007).

“Meski seluruh komunitas autis di Pittsburgh dan seluruh negara hancur dengan peristiwa terakhir di Virginia Tech, kami ingin mengingatkan publik untuk tidak menstigmata anak-anak atau individu yang menderita autis,” demikian statemen yang disampaikan direktur pusat autis Pittsburgh tersebut, Cindy Waeltermann.

“Cho kemungkinan tidak menerima bantuan dan dukungan yang diperlukannya sejak dini. Karena itulah kenapa intervensi begitu penting dan kenapa tempat seperti Pusat Autisme Pittsburgh ada. Tindakan seorang individu tidak menggambarkan keseluruhan populasi autis,” kata Waeltermann.

Waeltermann menegaskan, tidak adil menyalahkan tindakan brutal Cho pada kondisi autis yang dideritanya. Sebabnya, Cho jelas-jelas lemah secara psikologis. Apalagi pria Korsel itu juga pernah punya masalah kejiwaan.

Menurutnya, kasus Cho merupakan peringatan akan pentingnya intervensi dan penanganan sejak dini terhadap para penderita autis. Apalagi berdasarkan hasil riset, anak-anak autis yang mendapat pertolongan sejak dini akan lebih mahir berkomunikasi. (ita/sss)

"Tanggapan terhadap "Komunitas Autis Bereaksi Terhadap Kasus Cho"

1 | moh faizer

June 14th, 2009 at 8:36 pm

peace,…dlm sebuah kasus tdk bisa di samaratakan,tdk benar bahwa tindakan CHO adalah gambaran perilaku anak berkebutuhan khusus (anak dengan penyandang autisme),tindakan “brutal” kerap pula di lakukan oleh mereka yang menamakan dirinya manusia “normal,jadi Bijaksanalah dalam menyikapi sesuatu.simpelkan!!

Sumber : Rita Uli Hutapea - detikNews
Posted by: sca In: Berita
07 Januari 2009
http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=349

KARAKTERISTIK ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

* Lambat belajar dalam menangkap pelajaran
* Gangguan pemusatan perhatian dengan/ atau tanpa hiperaktifitas
* Gangguan baca tulis (disleksia) dan gangguan menghitung (dyscalculia)
* Gangguan perilaku seperti autisme, antisocial, gangguan emosi dll

Sumber : Pradnyagama Konsultan Psikologi
http://www.pradnyagama.baliklik.com/layanan-terapianak.html

Layanan Pusat Terapi Anak dan Sekolah Kebutuhan Khusus

Pusat Terapi Anak

Masa tumbuh kembang anak pada usia dini adalah masa emas (Gold Stage) dalam kehidupannya. Mereka sedang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat baik yang berhubungan dengan fisik, motorik, emosi, bahasa, komunikasi dan psikososial.

Oleh karenanya gangguan keterlambatan perkembangan perlu dicermati dan dideteksi sejak dini, agar dapat segera dilakukan treament dan terapi yang tepat sehingga anak dapat tumbuh dan mengejar ketertinggalannya secara optimal.

Beberapa gangguan keterlambatan perkembangan yang perlu dicermati oleh para orangtua, sering ditandai oleh gejal-gejal sbb :

1. Cenderung menghindari dan tidak mau melakukan kontak mata
2. Tidak bisa diam dan terus bergerak
3. Keterlambatan bicara
4. Sukar berkonsentrasi dan perhatiannya mudah teralih
5. Tidak peduli dengan lingkungan & tidak mau bergaul
6. Tidak ada reaksi bila dipanggil dan diajak berbicara
7. Berperilaku aneh seperti berputar-putar, bergoyang-goyang, melompat-lompat dalam waktu lama maupun beraktivitas tanpa tujuan
8. Gangguan emosi dan kecemasan
9. Gangguan adaptasi dan fungsi sosial
10. Lambat dalam belajar dan menangkap pelajaran
11. Dll

Kami sangat peduli dengan keterlambatan perkembangan anak-anak tersebut. Dengan team profesional yang berlatar belakang Psikologi dan berpengalaman menangani anak-anak bermasalah, bersedia membantu dan memberikan pelayanan yang terpadu dan intensif, sehingga diharpakan anak dapat mandiri dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya

Kami juga membantu persiapan mental, sosial dan kognitif bagi anak-anak yang bermasalah dengan kelas sosialisasi, untuk mengikuti proses pendidikan di lembaga sekolah nantinya.

Pelayanan Terapi meliputi :

1. Penilaian/ assesment awal dan lanjutan secara periodik oelh Psikolog
2. Pemeriksaan psikologi (Tes SQ, IQ, evaluasi emosi, konsentrasi dan kepribadian dll)
3. Pemberian program terapi sesuai dengan kebutuhan anak
4. Evaluasi program sesuai dengan kebutuhan
5. Konsultasi Keluarga (Family Therapy)

Yang ditangani antara lain :

1. Gangguan perkembangan pervasif (Autisme Infantil, Asperger’s Syndrome)
2. Gangguan pemusatan perhatian dengan/ tanpa hiperaktivitas (GPPH/ GPP)
3. Gangguan Emosi
4. Kesulitan belajar (Learning Disability)
5. Borderline (Lambat Belajar)
6. Retardasi Mental
7. Down Syndrome dll

Fasilitas Terapi meliputi :

* Terapi Perilaku (Behavior Therapy)
* Terapi Kognitif & Akademik (Kognitive Therapy & Remedial Teaching)
* Terapi Suara & Musik (Sound & Music Therapy)
* Terapi Kelompok (Group Therapy)
* Kelas Sosialisasi

Taman Latihan dan Pendidikan Anak
Kebutuhan Khusus

Taman latihan dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus bermula dari suatu keprihatinan dengan semakin banyaknya kasus kesulitan belajar (learning disability/ LD), gangguan pemusatan perhatian (attention deficit disorder/ ADD), tanpa maupun dengan hiper aktifitas (attention deficit disorder & hyperactivity/ ADHD), lambat belajar (slow learner), autisme dll.

Didirikannya lembaga ini bertujuan untuk memberikan wadah kepada anak-anak tersebut sesuai dengan kebutuhan yang tidak didapatkan pada sekolah pada umumnya. Oleh karena dibutuhkan suatu wadah yang terarah, terstruktur dengan siswa terbatas, intervensi khusus dan kurikulum khusus untuk pengembangan sikap dan perilaku anak serta perkembangan kemampuan dasar dan daya cipta anak (Iptek). Hal ini diperlukan agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekaligus menjembatani antara pendidikan dalam keluarga menuju pendidikan dasar dengan mengupayakan sistem pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan aspek perkembangan anak didik sesuai dengan keterbatasan perkembangan yang baru dicapai anak.

Sumber : Pradnyagama Konsultan Psikologi
http://www.pradnyagama.baliklik.com/layanan-terapianak.html

Dr.Drs. H. Muhammad Idrus, SPsi., M.Pd: Layanan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak masyarakat mem”vonis”anak dengan kebutuhan khusus (misalnya Autis, Down Syndrome,
Cerebral Palsy, Retardasi Mental, Speech Delay, Hyperaktif, cacat fisik, dll) sebagai anak yang tidak siap untuk hidup
dalam kehidupan nyata. Banyak pelabelan pada anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut, dan dapat dipastikan
pelabelan tersebut tidak pernah ada yang positif.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) juga memiliki hak-hak sebagaiman manusia normal lainnya, hal tersebut tertuang
dalam deklarasi hak asasi manusia penyandang cacat yang meliputi: Hak untuk mendidik dirinya (the right to educated
oneself), hak untuk pekerjaan dan profesi (the right to occupation or profession), hak untuk memelihara kesehatan dan
fisik secara baik (the right to maintain health and physical well being), hak untuk hidup mandiri (the right to independent
living) dan hak untuk kasih sayang (the right to love)
Hanya saja, tidak semua ABK memiliki kesempatan untuk mendapatkan hak-hak tersebut. Di sinilah pentingnya
pemahaman dan pengertian mereka yang memiliki kesempatan tubuh dan jiwa memahami mereka yang memiliki kelaian
fisik ataupun non fisik. Perlu dikembangkan sebuah relasi sehat antara mereka yang sehat secara fisik dan kejiwaan
dengan mereka yang berkelainan. Relasi tersebut hendaklah dibangun dengan dasar kepercayaan dan kesejajaran,
bukan berdasar pada rasa belas kasihan karena kondisi tubuh ABK.
Anak Berkebutuhan Khusus, Siapa sajakah mereka?
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mentalintelektual,
sosial, emosional) dalam proses pertumbuhannya dibandingkan dengan anak-anak lain sesusianya,
sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.Anak dengan kebutuhan khusus dikategorikan menjadi
dua, yaitu: Masalah dalam sensorimotor dan Masalah dalam belajar dan tingkah laku. Kelaian sensorimotor tidak harus
berakibat masalah pada kemampuan intelektualnya. Ada tiga jenis kelainan yang termasuk problem dalam sensorimotori
yaitu; kelainan pendengaran atau tunarungu (hearing disorders), kelaianan penglihatan atau tunanetra (visual
impairement) dan kelainan fisik atau tunadaksa (physical disability). Masalah dalam belajar dan tingkah laku
dikelompokan menjadi empat yaitu: pertama, keterbelakangan mental atau tunagrahita (intellectual disability), yang
tergolong dalam kelompok ini adalah tunagrahita (retardasi mental), ketidakmampuan belajar atau kesulitan belajar
khusus (learning disability) serta anak yang mengalami kesulitan belajar secara spesifik. Kedua, anak nakal atau
tunalaras (behaviour disorders), ketiga, anak berbakat, anak berbakat adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan
(inteligensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak sesusianya (anak
normal), keempat, cacat lebih dari satu atau cacat tunaganda (multy handicap).Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan
Khusus
Setiap jenis kelalaian anak yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus secara fisik dan psikologis memiliki karakteristik
yang khusus. Mengingat kekhasan inilah, maka proses pembelajaran bagi ABK hendaklah di desain sesuai dengan
kekhasan yang dimiliki anak.Anak tunanetra mengalami beberapa keterbatasan yang menjadikan mereka mengalami
hambatan, yaitu (1) keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru, (2) keterbatasan dalam berinteraksi dengan
lingkungan, (3) keterbatasan dalam mobilitas. Dengan sendirinya keterbatasan tersebut menuntut satu desain
pembelajaran yang juga khas. Terkait dengan pengajaran bagi anak tunanetra, maka proses pembelajarannya harus
mengacu kepada: (1) kebutuhan akan pengalaman konkrit, (2) kebutuhan akan pengalaman memadukan, (3) kebutuhan
akan berbuat dan bekerja dalam belajar.Untuk mendukung proses pembelajaraanya, maka media belajar bagi anak
tunanetra harus pula disediakan, misalnya tulisan Braille, alat untuk menulis Braille. Adapun proses pembelajarannya
setidaknya harus mengurangi proses observasi yang menggunakan penglihatan dan diganti dengan rabaan ataupun
berwujud audio.Dengan begitu untuk membelajarkan anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan sebuah desain
pembelajaran yang tidak sama dengan mereka yang normal. Inilah model adaptif dalam pembelajaran, yaitu sebuah
model pembelajaran yang menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Tentu saja metodenya dapat bervariasi, hanya
saja yang perlu diingat bahwa kekhasan yang dimiliki ABK terkadang menjadi hambatan pada dirinya. Jelas Dosen
Pendidikan Islam FIAI-UII Dr. Drs. H. Muhammad Idrus, S.Psi., M. Pd
Faculty Of Islamics Studies
http://fis.uii.ac.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=40

Sumber : Contributed by Yudho Prabowo
Tuesday, 07 April 2009
Last Updated Thursday, 09 July 2009
http://fis.uii.ac.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=40

Senin, 19 April 2010

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jangan Dilupakan!

KOMPAS.com — Keterbatasan layanan pendidikan sekolah luar biasa yang umumnya berlokasi di pusat kota/kabupaten menyebabkan banyak anak berkebutuhan khusus tak bisa mengakses pendidikan sesuai kebutuhannya.

Untuk itu, sekolah-sekolah reguler yang keberadaannya hingga ke pedalaman perlu dioptimalkan juga untuk dapat melayani anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Namun, keterbatasan pemahaman guru mengenai hak-hak anak berkebutuhan khusus serta kemampuannya menangani kekhususan itu menyebabkan pihak sekolah enggan melayani. Akibatnya, anak-anak berkebutuhan khusus tertinggal dalam layanan pendidikan yang seharusnya juga menjadi hak mereka sebagai warga negara.

Akbar Dahali, Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Kamis (15/10), mengatakan, para pendidik di sekolah-sekolah reguler perlu terus disadarkan untuk tidak membeda-bedakan siswa dalam layanan pendidikan.

Akbar menambahkan bahwa sekolah reguler tidak bisa menutup mata melihat ada sejumlah anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa mengakses layanan pendidikan karena kecacatan mereka.

"Di Kabupaten Enrekang hanya ada satu SLB di pusat kota. Tidak semua anak berkebutuhan khusus bisa mengakses layanan pendidikan di sana karena jarak yang sangat jauh. Apa kondisi itu harus menghalangi anak-anak untuk bisa bersekolah, padahal banyak yang punya semangat belajar," kata Akbar.

Asal ada kepedulian

Menurut Akbar, selama ada kepedulian, sekolah reguler sebenarnya bisa saja melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Sejumlah sekolah di Kabupaten Enrekang nyatanya sudah mulai sadar perlunya menerapkan pendidikan inklusi yang membaurkan anak-anak reguler dengan anak berkebutuhan khusus. Sekolah yang tidak ditunjuk sebagai sekolah inklusi oleh pemerintah setempat tetap bersedia menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Najmiani, Kepala SDN 74 Bolang, Kecamatan Alla, mengatakan, sekolah ini mulai menerima siswa berkebutuhan khusus sejak tahun lalu. Layanan itu diberikan karena kebutuhan orangtua siswa yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus yang kesulitan mengakses sekolah.

Kesadaran para guru untuk juga membuka diri pada anak-anak berkebutuhan khusus kini semakin terbuka karena adanya pelatihan tentang pendidikan inklusi, yang antara lain dilakukan oleh Helen Keller International.

"Kami jadi tahu bagaimana menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Memang penanganannya terbatas, tapi dengan kepedulian bersama, guru di sini belajar untuk bisa memahami keunikan siswa itu. Di sini juga sudah ada guru pembimbing khusus yang sudah dapat pelatihan teknis meskipun masih perlu terus ditingkatkan kemampuannya," kata Najmiani.

Di sekolah tersebut ada empat anak berkebutuhan khusus, mulai dari gangguan penglihatan, autis, dan tunarungu. Para siswa berasal dari keluarga miskin dengan mata pencaharian orangtua sebagai petani.

Sitti Mariani, Pelaksana Tugas Kepala TK Pertiwi 1 Cakke, Kecamatan Anggeraja, mengatakan, jika guru-guru diberi pemahaman dan pelatihan untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus, pola pikir dan sikap mereka akan terbuka dan bersedia melayani anak-anak tersebut. Kesadaran itu sudah mulai ditumbuhkan di kalangan guru TK di daerah ini.

"Awalnya hanya dari beberapa guru yang dapat kesempatan pelatihan soal pendidikan inklusi, lalu semangat itu ditularkan dalam kelompok kerja guru TK. Guru di sini sudah mulai berubah untuk memperlakukan anak berkebutuhan khusus dengan baik dan tidak langsung menolak mereka jika mendaftar di sekolah," ujar Sitti.

Para guru TK diajak untuk mulai mendata anak-anak berkebutuhan khusus di wilayahnya. Sekolah pun mulai mengumumkan secara terbuka untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

"Anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis dan down syndrome yang ada di TK ini justru kemajuannya lumayan. Karena mereka berbaur dengan anak-anak reguler, jadi mereka tertantang untuk bisa tidak ketinggalan dalam belajar," kata Sitti.

"Sekolah reguler tidak perlu menutup diri pada anak-anak berkebutuhan khusus yang mau belajar di sekolah itu. Yang penting guru punya kepedulian dan kesabaran untuk bisa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka,

Sumber : 16 Oktober 2009 15:46 WIB
http://www.pendidikan-diy.go.id/tampil_berita.php?id_sub=764

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus 249.000 Orang Belum Tersentuh

SOLO—Data dari Dinas Pendidikan Luar Biasa Kementerian Pendidikan Nasional menyebutkan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia mencapai sebanyak 324.000 orang. Dari 324.000 ABK, baru 75.000 anak yang sudah tersentuh, sedangkan sisanya sebanyak 249.000 belum tersentuh pendidikan. Demikian disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Luar Biasa Kementrian Pendidikan Nasional, Ekodjatmiko Sukarso di Solo, Selasa (2/3).
Ia mengeluhkan terkait perhatian pemerintah terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia yang masih minim. ”Saya harapkan perhatian kepada ABK benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Kami butuh dukungan dari pemerintah pusat dan semua kalangan masyarakat untuk menempatkan kelayakan posisi ABK,” kata Ekodjatmiko kepada Joglosemar di sela-sela Workshop Peserta Kegiatan Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2010, di Kusuma Sahid Prince Hotel (KSPH) Solo, Selasa (2/3), Ekodjatmiko menambahkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 70 tahun 2009, tidak diperbolehkan adanya diskriminasi bagi ABK terkait masalah pendidikan.
Menyayangkan
Sesuai data yang ada, jumlah ABK di Indonesia mencapai 324.000 ABK di Indonesia, dari jumlah tersebut hanya sekitar 75.000 anak yang beruntung bisa bersekolah. Untuk itu, perlunya dukungan dari sebuah asosiasi masyarakat untuk mem-backup penyelenggaraan PLB. ”Kami sangat menyayangkan masih adanya persoalan dipersulitnya ABK untuk mengikuti program pendidikan di sekolah umum. Padahal aturan resmi di UUD tidak diperkenankan adanya pilih kasih calon siswa baru di sekolah-sekolah,” ungkapnya.
Ia menambahkan banyak kasus ABK yang masuk kategori bidang tunadaksa dan tunagrahita, namun pola pikirnya masih seperti anak pada umumnya. Ini yang menjadi salah satu acuan bagi dinas terkait pendidikan luar biasa (PLB), untuk tetap memperjuangkan nasib ABK agar jangan sampai berhenti menuntut ilmu. ”Banyak sekali sebenarnya jika kami mau memperlebar masalah PLB ini. Kami hanya ingin mengetuk kesadaran, karena mereka itu semua sama dengan yang lain, sama makhluk ciptaan Tuhan,” tegasnya. (bns)

Sumber : Rabu, 03/03/2010 09:00 WIB - bns
http://harianjoglosemar.com/berita/pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus-249000-orang-belum-tersentuh-10611.html

Sulitnya Menangani Anak-anak Berkebutuhan Khusus

KOMPAS.com - Asmirandah Yanti (5) selalu bersemangat saat diberi buku bacaan anak. Meski matanya hampir melekat di kertas buku, Asmirandah yang memiliki masalah penglihatan—akibat lensa di dalam matanya tak menyatu—tidak pernah bosan melihat-lihat buku bacaannya.

Sudah hampir enam bulan ini Asmirandah diajar secara khusus oleh Munawar, guru honorer Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi 1 Cakke, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Bersama Asmirandah, ada Rais (7) yang tangan kanan dan kakinya kurang sempurna, serta Hasbil (3) yang kedua telapak kakinya ke belakang. Mereka belajar bersama-sama.

Anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik itu kesulitan untuk bersekolah di sekolah luar biasa (SLB) yang berlokasi di pusat ibu kota kabupaten. Untuk bersekolah di TK atau SD reguler yang dekat dengan rumah juga sulit.

Karena itu, Munawar yang mendapat pelatihan soal pendidikan inklusi dari Helen Keller International (HKI), lewat program National Opportunities for Vulnerable Children, melakukan terobosan dengan berkunjung langsung ke rumah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

”Anak-anak itu sebenarnya punya semangat tinggi untuk belajar,” ujar Munawar yang merogoh kocek sendiri senilai Rp 30.000 tiap kali berkunjung ke rumah Asmirandah di Desa Malua.

Di rumah itulah, ketiga anak berkebutuhan khusus itu diajar untuk mandiri dengan keterbatasan fisik mereka, serta bermain dan belajar untuk merangsang keinginan belajar. ”Anggota keluarga juga terlibat supaya mereka mendorong anak-anak ini nantinya mau bersekolah. Mendidik ABK sejak dini bisa membuat lebih percaya diri untuk bersekolah,” kata Munawar.

Mengajar anak berkebutuhan khusus di usia dini di rumah juga dilakukan Sitti Mariani, Pelaksana Tugas Kepala TK Pertiwi 1 Cakke. Sekolah ini sudah lama bersedia menerima anak berkebutuhan khusus yang dibiarkan berbaur dengan anak-anak lainnya.

Selain terjun langsung untuk menjangkau ABK usia dini di kampung-kampung, para guru TK ini juga menyebarkan semangat pendidikan inklusi kepada guru-guru TK lainnya. Upaya ini mulai berbuah, mulai ada guru TK yang mau menjangkau anak berkebutuhan khusus usia dini yang ada di sekitar sekolah atau tempat tinggal mereka.

Membuka diri

Para guru TK diajak untuk mulai mendata anak-anak berkebutuhan khusus di wilayahnya. Sekolah pun mulai mengumumkan secara terbuka untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurut Sitti, ABK seperti penyandang autis dan down syndrome yang ada di TK ini justru kemajuannya lumayan. Pasalnya, mereka berbaur dengan anak-anak reguler. Jadi, mereka tertantang untuk tidak ketinggalan dalam belajar.

Meski tidak ditetapkan secara resmi sebagai sekolah inklusi, banyak SD di Kabupaten Enrekang yang mulai menerima ABK di sekolahnya. Kebijakan itu membuat ABK yang tidak bisa mengakses SLB bisa menikmati bangku sekolah, belajar bersama anak-anak lainnya.

Belum tersedianya guru pembimbing khusus yang berkualitas di sekolah-sekolah membuat layanan ABK di sekolah reguler tidak maksimal.

Najmiani, Kepala SDN 74 Bolang, Kecamatan Alla, mengatakan, sekolah ini mulai menerima siswa berkebutuhan khusus sejak tahun lalu. Layanan itu diberikan karena orangtua siswa yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus sulit mengakses SLB.

Di sekolah tersebut ada empat ABK, antara lain, gangguan penglihatan, autis, dan tunarungu. Para siswa berasal dari keluarga miskin dengan mata pencarian orangtua umumnya sebagai petani.

Merebaknya sekolah inklusi di Kabupaten Enrekang itu setidaknya bisa menjangkau 258 siswa ABK. Ada sekitar 80 SD yang membuka diri untuk menerima ABK meskipun tidak semuanya secara resmi ditetapkan sebagai sekolah inklusi.

Widya Prasetyanti dari HKI mengatakan, terbukanya sekolah untuk menerima ABK tumbuh dari kesadaran para pendidik dan masyarakat. Keluarga pun mulai membuka diri dan membuang rasa malu memiliki anak cacat.

Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Kabupaten Enrekang Akbar Dahali mengatakan, para pendidik di sekolah reguler perlu terus disadarkan untuk tidak membeda-bedakan siswa dalam layanan pendidikan. Sekolah reguler tidak bisa menutup mata melihat ada sejumlah ABK yang tidak bisa mengakses layanan pendidikan karena kecacatan mereka.

Hingga saat ini baru sekitar 20 persen ABK yang terlayani pendidikan di SLB. Padahal, anak-anak ini juga memiliki hak yang sama untuk menikmati pendidikan demi masa depan mereka.

Semangat mengembangkan pendidikan inklusi yang tumbuh di Enrekang mulai memberi harapan. Anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik pun tidak lagi terhalang untuk mengembangkan diri.

Sumber : Ester Lince Napitupulu (Rabu, 6 Januari 2010 | 05:47 WIB)
http://edukasi.kompas.com/read/2010/01/06/05475865/Sulitnya.Menangani.Anak.anak.Berkebutuhan.Khusus

Yogyakarta (DIY) : 1.600 Anak Berkebutuhan Khusus belum Peroleh Akses Pendidikan

YOGYAKARTA--MI: Sebanyak 1.600 dari 5.600 anak berkebutuhan khusus atau diffable usia sekolah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum mendapatkan akses pendidikan.

Banyaknya anak berkebutuhan khusus belum bisa mengakses pendidikan karena minimnya kepedulian instansi terkait serta terbatasnya pengetahuan orang tua, kata Program Manager Distarter Risk Reduction and Education Arbeiter Samariter Bund (ASB) Sae Kani di Yogyakarta,
Selasa (19/1).

Ia menjelaskan, pihaknya akan membuka akses pendidikan bagi para anak berkebutuhan khusus mulai tahun ini, terutama di Kabupaten Bantul. Program tersebut akan berlangsung hingga 20 bulan ke depan. Kegiatannya akan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.

Kani kembali mengungkapkan, banyaknya anak berkebutuhan khusus usia sekolah yang tidak mendapat akses pendidikan juga karena salah satunya keberadaanya dianggap sama dengan tuna grahita. Padahal, ada beberapa kelompak anak berkebutuhan khusus, seperti anak autis, maupun kemampuan berpikir kurang.

Tanpa mengetahui kelompok anak berkebutuhan khusus, akan sulit dicari penyelesaiannya. Anak berkebutuhan khusus harus diketahui dulu kekurangan fisiknya, baru kemudian disimpulkan apa saja yang diperlukan, katanya.

Untuk menyukseskan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu, upaya juga akan dibantu oleh tenaga guru pendamping khusus. Di Kabupaten Bantul sedikitnya sudah ada 70 guru pendamping khusus. (SO/OL-01)

Sumber: Media Indonesia Online
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/19/117977/
88/14/1.600-Anak-Berkebutuhan-Khusus-belum-Peroleh-Akses-Pendidikan
By admin
Tuesday, January 19, 2010 18:16:00
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=2080

Sukarlik dan Anak Berkebutuhan Khusus

KOMPAS.com — Ancaman dicopot dari jabatan sebagai kepala sekolah tak menyurutkan keyakinan Sukarlik membuka SD negeri yang dipimpinnya terbuka bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia yakin, membaurkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal di sekolah reguler justru membuat mereka belajar saling memahami dan mendukung.

Bukan Sukarlik jika kalah sebelum berperang. Saat diancam hendak dicopot sebagai kepala sekolah, ia bersikukuh dengan niatnya. ”Pas mau dipecat saya bilang, saya ini dari Blitar, masih bisa jualan pecel. Namun, saya ngomong itu sambil menangis.”

Di sekolah yang dipimpin Sukarlik, anak down syndrome, lambat belajar, autis, tunanetra, dan tunarungu boleh mendaftar. Mereka bersosialisasi dengan anak reguler untuk membantu menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang juga berpotensi.

Apa yang dilakukan Sukarlik sejak menjabat Kepala SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya tahun 1989 itu awalnya tak disambut baik warga sekolah. Tantangan paling keras justru datang dari dinas pendidikan setempat yang tak menerima ABK berbaur dengan anak sekolah reguler. Katanya, ABK secara formal harus belajar di sekolah luar biasa (SLB).

Demi menjalankan niat baik, dia bersama guru-guru lain pun menyusun siasat. Jika ada pengawasan ke sekolah, ABK yang secara fisik mudah dikenali, terpaksa disembunyikan di kamar kecil atau sawah.

”Untungnya cara itu berhasil. Anak-anak down syndrome wajahnya mudah dikenali, ya mereka disembunyikan. Kalau ketahuan, bisa-bisa mereka enggak boleh sekolah lagi. Begitulah kebijakan pemerintah saat itu. Namun, yang penting kami di sekolah bisa menerima anak-anak,” tutur Sukarlik.

Jalan menuju perubahan terbuka pada tahun 2000. Ketika ada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) SLB, pejabat dari dinas pendidikan pusat melihat ada siswa yang dikategorikan ABK tetapi memakai badge seragam SDN.

”Mereka jadi tahu jika anak-anak berkebutuhan khusus yang dilihat itu sekolah di sini. Saya ditanya ini kelas apa? Saya jawab kelas integrasi. Anak berkebutuhan khusus itu bisa lebih cepat bersosialisasi jika belajar bareng anak biasa. Saya balik tanya, kenapa mereka dari kecil dimasukkan SLB? Nantinya mereka juga akan punya pasangan dan tak selamanya di lingkungan luar biasa. Tuhan memberi kekurangan kepada anak-anak itu untuk melengkapi anak-anak lain,” katanya.

Sekitar tiga tahun kemudian, dia diundang ke Jakarta. Sukarlik berkesempatan menjelaskan apa yang dilakukan sekolah bagi ABK. Dia juga sempat menuangkan keresahan hatinya soal keberatan dinas pendidikan setempat yang menyebutkan tindakannya melanggar aturan.

”Saya baru tahu jika apa yang dilakukan sekolah kami sebenarnya juga ingin dilakukan pemerintah pusat. Namun, program itu tak berhasil. Program itu dinamakan sekolah inklusi. Mendengar itu, saya lega. Saya bersyukur Tuhan menunjukkan, apa yang saya lakukan itu betul,” ujar nenek tiga cucu ini.

Program pemerintah yang mengembangkan dan mendukung sekolah inklusi membuat semangat Sukarlik makin kuat. Ia lalu mengajak sekolah negeri lain untuk membuka pendaftaran bagi ABK. Kini sudah 17 sekolah swasta dan negeri yang menjadi sekolah imbas SDN Klampis Ngasem I-246.

”Saya senang karena anak-anak berkebutuhan khusus yang tadinya cuma ingin ke sekolah kami sudah bisa ke sekolah yang dekat rumah. Ini terutama anak-anak dari keluarga tak mampu. Mereka bisa sekolah gratis karena didukung pemerintah,” katanya.

Penolakan

Tumbuhnya keinginan Sukarlik melayani ABK karena miris melihat perlakuan tak adil yang diterima ABK. Dalam keluarganya, anak kakaknya yang berkebutuhan khusus tak bisa sekolah karena miskin.

Di perkampungan nelayan tempat dia mengajar, Sukarlik melihat anak down syndrome diolok-olok sebagai orang gila. Ia yang saat itu menjadi Kepala SDN Kejawan Putih, Tambak, Surabaya, mencoba memasukkan anak nelayan itu ke SLB yang dikelola yayasan dokter.

”Namun, anak itu ditolak karena enggak mampu bayar. Bagaimana mau memikirkan uang sekolah, untuk makan saja keluarganya sudah susah. Saya marah dan kecewa,” katanya.

Dia lalu membulatkan tekad mengajar tiga anak nelayan down syndrome itu. Ia pernah punya pengalaman mengajar di panti milik Romo Yansen di Malang. Sukarlik mengajari mereka dibantu seorang guru yang berlatar belakang pendidikan luar biasa di ruangan kepala sekolah.

ABK diajak bersosialisasi dengan anak-anak reguler. Ketika pelajaran seni atau olahraga, ABK belajar bersama anak-anak lain. Lambat laun makin banyak ABK dari keluarga miskin yang mendaftar, sampai 47 anak.

Keberadaan ABK di sekolah reguler lalu mendapat simpati dari banyak pihak. Bantuan mengalir ke sekolah Sukarlik dengan beragam program.

”Mereka melihat anak berkebutuhan khusus membawa keberuntungan, di mana anak lain juga bisa merasakan bantuan dari banyak pihak. Semua warga sekolah bisa menerima sekolah yang membaurkan anak-anak berkebutuhan khusus dan reguler,” ujarnya.

Ia sadar tak mudah membuat masyarakat mau memperlakukan ABK dengan baik. Ia mengadakan pendekatan kepada anak-anak, orangtua, dan para guru.

Kepada anak normal, ia mengatakan, ”Berbahagialah kamu, bersyukurlah enggak seperti dia. Kalau kamu membantu teman yang berkebutuhan khusus, Tuhan memberi pahala.”

Hal senada juga dikatakan Sukarlik saat menyapa orangtua siswa yang tengah menunggu anaknya. Semua orangtua ingin anaknya cantik, ganteng, dan pintar. ”Orangtua saya ajak bersyukur. Mereka jadi tersentuh dan mau menerima anak-anak berkebutuhan khusus berbaur dengan anak mereka,” katanya.

Para guru yang harus berhadapan dengan ABK juga dipompa semangatnya. ”Kalau Anda membuat anak normal atau anak orang kaya bisa pintar, itu biasa. Namun, kalau Anda membuat pintar anak berkebutuhan khusus atau anak orang miskin, Tuhan akan memberi pertolongan. Jangan takut miskin,” katanya meyakinkan para guru.

Sukarlik yakin setiap anak itu punya potensi. Mereka hanya perlu dibantu. Terbukti, ABK dari SDN Klampis Ngasem I-246 bisa mandiri dan tak canggung bersosialisasi dengan siapa saja.

Ada siswa tunarungu menjadi peragawati. Ada siswa yang lambat belajar dan sampai kelas III SD belum bisa membaca kemudian dapat menjadi perias yang mewakili Jatim dan meneruskan kuliah di IKIP.

”Saya bersyukur sekolah inklusi mulai berkembang. Saya enggak dikejar-kejar (lagi), lega, dan bahagia,” ujarnya.

Sukarlik berharap fasilitas di SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya bisa lebih baik. Ia ingin di sekolahnya ada ruang identifikasi dan ada kolam renang, terutama untuk siswa autis.

”Saya tak bisa mengharapkan bantuan dari orangtua siswa, sulit sekali, karena mereka tak mampu. Namun, saya ingin anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga tak mampu sekalipun bisa terlayani dengan baik,” katanya.

Tahun 2009 Sukarlik memasuki usia pensiun. Namun, dia diminta untuk tetap membimbing pengembangan sekolah inklusi di Surabaya. Permintaan yang tak mungkin ditolaknya....

Sumber : ESTER LINCE NAPITUPULU
Sabtu, 14 Maret 2009 | 15:03 WIB
http://oase.kompas.com/read/2009/03/14/15035597/Sukarlik.dan.Anak.Berkebutuhan.Khusus

Alat Bantu Visual Untuk Penderita Autis

Banyak anak autisme belajar lebih baik dengan menggunakan visual (penglihatan). Ciri anak dengan visual learner adalah senang mainan puzzle, bentuk-bentuk, suka non­ton video, TV terutama film kartun, menyukai huruf, angka, dan kadang-kadang dapat membaca tanpa diajari. Mengapa anak lebih baik diajar secara visual? Karena ber­bicara memerlukan waktu yang singkat (milisecond), jadi terlalu cepat untuk anak dengan gangguan bicara/komunikasi.
Dengan diperlihatkan secara visual anak da­pat berkonsentrasi misalnya dengan melihat benda, foto, atau gambar. Dengan melihat visualisasi tersebut, anak menyerap dan menerima informasi lebih lama. Sebenarnya kita pun menggunakan “visual helper” setiap saat, contoh rambu lalu-lintas, kalender, simbol wanita dan pria untuk toilet, dan lain-lain. Alat bantu visual dapat kita buat dengan menggunakan benda konkrit, foto berwarna atau gambar.
Benda konkrit dapat digunakan pada anak autisme dengan tahap komunikasi “Own Agenda Stage” dan “Requester Stage”, karena pada tahap ini anak biasanya tidak tertarik pada foto. Miniatur mainan dapat kita gunakan, atau kita gunakan simbol misalnya sendok untuk makan. Foto berwarna bia­sa­nya disukai anak. Kita dapat membuat foto sen­diri, atau dapat mengguntingnya dari majalah, katalog, dus mainan/makanan.
Gambar dapat digunakan walaupun tidak sama persis, tetapi lebih murah dan dapat dibaca dengan mudah. Alat bantu visual membantu anak mengerti informasi tentang pilihan, apa yang akan dilakukan waktu lampau dan waktu yang akan datang, perasaan anak dan perasaan orang lain, bagaimana cara melakukan suatu aktivitas secara mandiri, dan membantu anak apa yang harus dilakukan bila terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Untuk mengerti pilihan dapat digunakan “Papan Pilihan” yang berisi gambar atau benda konkrit dari makanan, mainan, atau gambar aktivitas. Benda konkrit bisa dimasukkan ke dalam plastik transparan atau tempat sepatu. Gambar dapat ditempel di kertas velcro. Banyaknya benda atau gambar pilih­an tergantung tingkat komunikasi, mulai dari dua pilihan dulu, lalu bila anak tertarik dapat diperbanyak.
“No Sign” (tanda tidak boleh/dilarang) seperti pada gambar “dilarang merokok” dapat digunakan untuk menginformasikan bahwa anak tidak boleh memilih makanan, mainan, atau aktivitas tertentu. “No Sign” bisa dipakai untuk melarang perilaku ne­gatif.

Contoh anak yang punya kebiasaan memukul. Caranya hentikan perilaku memukul secara fisik, lalu tunjuk gambar “dilarang memukul” sambil katakan “tidak memukul”, lalu tunjuk gambar yang harus dilakukan (contoh tangan ke bawah dan ambil buku) sambil mengambil buku bersama-sama.

Alat bantu visual dapat membantu anak mengerti apa yang akan terjadi, yaitu dengan memakai urutan gambar (Picture Schedule) yang berisi benda, gambar, orang, atau tempat yang menggambarkan apa yang akan dikerjakan oleh anak.
Bisa juga digunakan dua benda atau gambar yang akan dilakukan anak dalam waktu singkat. Contoh gambar aktivitas makan dan gambar komputer (First/Then Board). Artinya anak harus makan dulu, baru boleh main komputer. Dapat juga dibuat urutan gambar yang lebih detail yang terdiri dari 4 sampai 5 gam­bar/benda yang akan dilakukan anak sepan­jang hari atau 4 sampai 5 gambar langkah-langkah individual dalam satu aktivitas. Misalnya urutan-urutan aktivitas memakai baju atau tahapan aktivitas mencuci tangan. Bisa juga dibuat gambar acara penting dalam satu minggu, misalnya pergi ke kolam renang, ke rumah nenek atau acara ulangtahun.
Alat bantu visual dapat membantu anak mengerti konsep waktu yaitu waktu lampau (yang sudah dilakukan) dan waktu yang akan datang. Waktu adalah sesuatu yang abstrak yang sulit dimengerti oleh anak autisme, karena itu visual sangat membantu. Untuk mengerti waktu lampau, kita dapat membuat suatu wadah untuk menyimpan gambar kegiatan yang sudah selesai atau sudah dilakukan, misalnya dalam suatu amplop atau gelas plastik kosong yang ditulisi kata “sudah” atau kata “selesai”. Untuk menggambarkan waktu yang akan da­tang atau yang akan dilakukan dapat dengan memperlihatkan gambar aktivitas yang akan dilakukan, contohnya dengan memperlihatkan gambar kolam renang apabila akan be­renang, gambar kue ulang tahun bila akan pergi ke acara ulang tahun, dan sebagainya. Alat bantu visual juga dapat membantu anak untuk menyatakan keinginannya. Bila ada papan gambar pilihan, anak akan menunjuk apa yang dia mau.

Pada anak yang sudah dapat bicara papan pilihan ini akan mengingatkan apa yang dia inginkan. Papan pilihan juga membantu menjawab pertanyaan. Misalnya kita tanya “mau roti atau kue?” Atau kita tanya “mau apa?”. Anak akan menjawab dengan menunjuk papan pilihan.

Alat bantu visual juga membantu anak untuk berkomunikasi dengan cara lain yaitu dengan menukar gambar dengan benda yang diinginkan. Misalnya anak memberikan gambar kue, maka kita ambil gambar itu dan ditukar dengan kue sambil mengatakan “kue”. Ada beberapa tips cara menggunakan alat bantu visual. Simpan alat bantu visual pada tempat-tempat yang biasa digunakan. Contoh gambar makanan di depan kulkas atau lemari makanan, gambar mainan di sebelah lemari mainan, gambar aktivitas bermain di sebelah pintu keluar rumah. Tambahkan kata di bawah gambar. Walaupun anak belum bisa membaca, anak akan menghubungkan gambar dengan kata yang tertera di bawah gambar tersebut. Anda harus memperlihatkan apa yang anda katakan dan menarik perhatian anak dengan menunjuk atau melingkari gam­bar dengan jari tangan.

Dari urutan di atas disimpulkan bahwa alat bantu visual dapat dipakai untuk meningkatkan cara berkomunikasi anak autisme. Anak yang pasif diharapkan menjadi aktif, tahap komunikasi anak dapat ditingkatkan. Dan anak yang belum bicara (non verbal) dapat dirangsang untuk dapat mengeluarkan suara (verbal). Bagaimanapun, komunikasi adalah kebutuhan semua orang, tak terkecuali anak autisme. Karena itu tanganilah anak autisme agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga dapat berbaur dengan masyarakat secara benar dan wajar.

Sumber: http://www.anakspesial.com
Ditulis oleh farida | Ditulis di ABK | Ditulis tanggal 12 Aug 2008
http://mommygadget.com/2008/08/12/alat-bantu-visual-untuk-penderita-autis/

Alat Sederhana Untuk ABK

Terkadang banyak sekali barang-barang yang kelihatannya dianggap sepele, ternyata mampu berdaya guna tinggi untuk membantu proses belajar anak berkebutuhan khusus (ABK) di rumah. Jadi jangan buru-buru membuang barang-barang yang dianggap sebagai sampah di rumah. Dengan sedikit modifikasi, barang-barang ini mampu menjadi alat yang dapat diandalkan. Di bawah ini diulas beberapa barang:

1. bermacam kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kacang merah dan botol plastik bekas minuman bisa dijadikan seba­gai media untuk membantu ABK melatih motorik halus dan konsentrasi. Caranya masukkan kacang-kacangan tersebut ke dalam botol satu-persatu. Cobalah dahulu dengan satu genggam kecil saja, dan hati-hati jangan sampai anak memasukkannya ke dalam mulut. Sambil berinteraksi secara langsung, lakukan dengan suasana gembira. Latihan ini bisa dilakukan saat anak dan orangtua sedang santai di sore hari. Jika ABK senang berhitung, hitunglah bersama-sama jumlah kacang yang masuk ke dalam botol

2. kertas undangan bekas dan guntingan tulisan/abjad dari majalah bekas. Biasanya undangan terbuat dari karton yang agak tebal dengan warna-warna yang menarik. Guntinglah seukuran kartu 5×5 cm, lalu am­bil bagian polosnya dan tempelkan guntingan huruf dari majalah bekas tersebut. Usahakan satu huruf kecil dan satu huruf besar dipadukan dengan warna yang menarik sehingga anak akan tertarik untuk belajar huruf dan warna

3. sumpit bambu dan manik-manik plastik ukuran sedang. Letakkan manik-manik di dalam mangkok plastik lalu pindahkan manik-manik dengan menggunakan sumpit ke dalam mangkok plastik yang kosong sehingga semua manik-manik berpindah tempat. Kegiatan ini bagus untuk melatih motorik halus dalam rangka kekuatan melatih jari tangan untuk persiapan menulis juga latihan konsentrasi

4. botol bekas semprotan pewangi pakaian. Cuci bersih, lalu isi dengan air biasa. Ajaklah anak menyemprotkan air ke tanaman/rumput. Kegiatan ini baik juga untuk melatih motorik tangan sambil bermain

5. bubble/gelembung sabun serta boneka tangan yang ada mulutnya sehingga bisa dibuka tutup. Ajaklah anak untuk meniup bubble lalu orangtua menangkap buble dengan menggunakan boneka tangan, seolah-olah boneka tangan memakan bubble tersebut. Lakukan sambil berinteraksi de­ngan anak dalam suasana gembira

6. baju dan celana bekas yang menggunakan bermacam ukuran kancing baju dan resleting. Dapat digunakan sebagai alat belajar untuk bina diri dan motorik

7. kardus bekas ukuran cukup besar dan bola kaki plastik yang lunak. Alat sederhana ini mampu menciptakan kegiatan yang sangat besar manfaatnya bagi anak dan anggota keluarga yang lain. Ajak semua anggota keluarga bermain sepakbola dengan menggunakan kardus bekas ini sebagai gawangnya. Selain melatih motorik kasar juga bisa melatih kemampuan komunikasi dalam kelompok kecil antaranggota keluarga dengan ABK

8. album foto lama yang isinya sudah dikosongkan. Benda ini bisa dijadikan tempat untuk menyimpan bermacam kartu yang dibuat sendiri, atau untuk menyimpan koleksi hasil karya anak. Ajarkan anak untuk menyimpannya dengan baik. Kegiatan ini sangat baik dalam mengajarkan anak untuk mampu meng­hargai hasil karyanya sendiri dan memotivasi untuk lebih banyak berkarya

9. sendok dan garpu plastik bekas pesta atau dari restoran. Alat-alat ini jika sudah banyak jumlahnya bi­sa dijadikan alat untuk melatih anak ”memisahkan” atau ”memasangkan” benda ini ke dalam satu wadah/tempat sehingga seolah-olah anak sedang mempersiapkan suatu acara

10. sapu tangan/serbet makan, sebagai alat pertama untuk mengajarkan anak belajar melipat pakaiannya

Sebenarnya banyak sekali benda-benda di dalam rumah kita yang dapat dijadikan alat bantu belajar untuk ABK. Orangtua hanya membutuhkan sedikit kreativitas untuk mampu mengembangkannya. Dengan demikian, biaya pembelian alat yang baru dapat ditekan, selain tentunya bermanfaat untuk meningkatkan hubungan orangtua dan anak serta anggota keluarga yang lain.

Sumber: http://www.anakspesial.com ( Ditulis oleh farida | Ditulis di ABK | Ditulis tanggal 11 Aug 2008)
http://mommygadget.com/2008/08/11/alat-sederhana-untuk-abk/

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Anak Berkebutuhan Khusus – Jangan Sisihkan Anak-anak “Down Syndrome” Itu…

Meski anak-anak down syndrome memiliki keterbatasan, mereka tetap mampu berprestasi. Karena itu, anak-anak down syndrome perlu perhatian, didampingi, dan jangan disisihkan.

“Semua anak haruslah dianggap sama. Janganlah mereka disisihkan. Sebaiknya mereka pun dibekali keterampilan,” kata Ny Mufidah Jusuf Kalla saat hadir pada acara wisuda lulusan SD, SMP, dan alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Dian Grahita, Jakarta, Senin (6/8).

Menurut suster Joanni, Kepala SLB Dian Grahita, wisuda ini sangat berarti bagi anak-anak down syndrome. “Inilah bukti cinta orangtua dan sekolah kepada anak-anak kami. Mudah- mudahan ini titik awal. Saatnya masyarakat menerima dan mencintai anak-anak kami,” katanya.

Down syndrome disebabkan adanya gangguan pada kromosom yang ke-21. Manusia memiliki 23 pasang kromosom. Pada anak down syndrome, kromosom mereka yang ke-21 tidak sepasang (dua), melainkan tiga kromosom (trisomi). Dengan kata lain, down syndrome adalah gangguan genetik.

Pada wisuda hari Senin lalu, ada 30 anak yang diwisuda. Tujuh anak adalah lulusan SD, 11 lulusan SMP, dan 12 anak adalah alumnus SLB Dian Grahita. Mengenakan jubah dan toga berwarna ungu, mereka sangat antusias mengikuti acara wisuda yang dimeriahkan tari-tarian dari rekan-rekan mereka.

Menurut Ketua Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) Aryanti Rosihan Yacub, setelah tamat sekolah, anak-anak pada umumnya akan mengejar masa depan. Akan tetapi, para orangtua anak-anak down syndrome justru mengalami ketakutan bagaimana masa depan anak-anak mereka karena keterbatasannya.

“Karena itu ada ISDI, agar kehidupan mereka berguna dan berarti. Ada banyak rintangan dan cucuran air mata. Asuransi kesehatan pun menolak mereka karena takut rugi. Tetapi, dengan keterbatasan mereka, anak-anak ini sebetulnya juga dapat berprestasi mengangkat nama bangsa dan negara di dunia internasional,” kata Aryanti.

Kimberly, yang baru saja lulus SD (biasa dipanggil Kim Kim) pada SLB Dian Grahita, misalnya. Walaupun untuk berjalan saja Kim Kim mengalami kesulitan, tetapi begitu “nyemplung” ke kolam renang, ia bak ikat pesut yang bergerak cepat.

Michael Rosihan Yacub, yang lulus SMP, telah berpraktik kerja di British International School. Ia pun mampu mandiri. Robby Eko Raharja yang juga lulus SMP, selain lincah memainkan keyboard juga menang terus dalam acara-acara pekan olahraga.

Alumni SLB Dian Grahita, seperti Adrian Raharja, pun pernah menjadi juara I renang Porcaba 2005, mendapatkan medali perak Bocce di Taipei (Taiwan), juara I Bocce Porcaba 2007.

Tak semua anak down syndrome menyusahkan keluarganya. Seperti Marisa (16), siswa SMA Triasih di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Ia bisa mandiri dan sangat senang menari.

Betapa pun anak-anak, down syndrome ada di sekeliling kita. Adalah kewajiban kita untuk membekali mereka dengan keterampilan guna menghadapi masa depan…. (LOK)

Sumber : Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/08/humaniora/3749099.htm, Rabu, 08 Agustus 2007 Wednesday, August 8, 2007
By susuwongi, http://niasonline.net/2007/08/08/anak-berkebutuhan-khusus-jangan-sisihkan-anak-anak-down-syndrome-itu/

Minggu, 18 April 2010

Bepergian Bersama Anak Cacat

Bepergian dengan anak-anak sering menjadi perjalanan penuh petualangan, dan seringkali acara berubah dari rencana semula. Akan tetapi, petualangan akan menjadi lebih terasa bila Anda bepergian dengan anak berkebutuhan khusus atau penyandang cacat.

BERSENANG-SENANG

Ketika tengah merencanakan liburan, hal pertama yang kerap harus disepakati adalah tempat tujuan. Bagi keluarga dengan anak cacat, penyeleksian tempat tujuan haruslah dipertimbangkan. Pilihlah tempat yang ramah bagi penyandang cacat.

Misalnya, ada tempat parkir khusus bagi penyandang cacat, atau tempat menonton pertunjukan yang memberi kemudahan bagi mereka, baik untuk duduk maupun jalan keluar masuknya. Yang dimaksud penyandang cacat di sini, tak hanya yang menggunakan kursi roda saja, tapi juga anak-anak autisme atau pengidap penyakit ayan.

Jadi, carilah tempat tujuan yang mempromosikan akses bagi orang cacat, misalnya yang memiliki panduan akses atau informasi mudah lewat website. Lalu, hindari orang-orang yang berpotensi berperilaku buruk, seperti yang mengatakan, “Sebenarnya kami tak bisa mengakomodasi anak Anda. Bahkan, tak seharusnya Anda berpergian.”

Ingat, ini liburan keluarga dan Anda ingin bersenang-senang dengan pergi ke tempat yang bisa menerima Anda sepenuhnya. Begitu sudah menyeleksi tempat tujuan, dapatkan informasi sebanyak mungkin tentang akses yang mudah dicapai, sebelum Anda berangkat. Semakin banyak informasi, akan semakin memudahkan, dan banyak pula hal-hal yang dapat Anda lakukan bersama anak.

JENIS TRANSPORTASI

Setelah menyeleksi tempat tujuan yang dapat diakses secara mudah, Anda perlu mempertimbangkan jenis transportasi yang akan digunakan. Terkadang, menggunakan pesawat terbang merupakan satu-satunya cara. Agar perjalanan udara Anda dan keluarga lancar, sebaiknya Anda bekerjasama dengan orang-orang yang memiliki pengalaman bepergian bersama penyandang cacat.

Untuk memulainya, jangan memesan pesawat terbang lewat internet. Agar mendapatkan pelayanan yang Anda perlukan, sebaiknya gunakan biro perjalanan berpengalaman dalam mengurus penumpang anak-anak cacat. Jangan datangi biro perjalanan yang tak Anda kenal, tidak direkomendasikan, atau biro perjalanan yang memberi jawaban yang tak meyakinkan.

Ketika memesan tiket, orangtua harus mengatakan kepada pegawai ticketing tentang anaknya yang cacat, dan sebutkan jenis cacatnya, terutama jika cacat yang dideritanya bukan cacat yang umum dikenal orang. Bahkan, meskipun Anda tak memerlukan bantuan ekstra, jika mengatakan anak Anda cacat atau memiliki keterbelakangan, mereka akan memberi kode khusus sehingga pramugari/pramugara akan segera tahu, dan akan membantu ketika Anda memerlukan bantuan khusus.

Hal ini penting bagi perusahaan udara untuk mengetahuinya, sebab jika terjadi kondisi darurat, bantuan terhadap anak Anda akan didahulukan. Hak-hak lain yang perlu Anda catat adalah, penyandang cacat boleh minta diperiksa di ruang khusus dan tidak di depan orang lain ketika harus melewati pintu pemeriksaan.

ALTERNATIF LAIN

Pada kasus-kasus tertentu, di samping mengandalkan pesawat terbang, mobil pribadi, kereta api, atau kapal pesiar tampaknya merupakan cara yang justru bisa menjadi pilihan lain bagi Anda yang memiliki anak penyandang cacat.

Kebanyakan orangtua, kapal pesiar dipilih sebagai tujuan terbaik untuk berlibur. Bagi sebagian anak cacat, mungkin akan merasa tak cocok karena cacat yang dideritanya. Tapi, manfaat besarnya adalah Anda dapat menikmati seluruh hiburan di satu tempat sehingga secara logika akan lebih mudah dilalui.

Jika memilih kereta api, sebelum berangkat sebaiknya cari informasi apakah kereta api yang akan ditumpangi memungkinkan bagi penyandang cacat berkursi roda. Sebab, tak semua kereta api memiliki akses yang memudahkan bagi orang yang menggunakan kursi roda.

Agar mendapat kemudahan, terutama soal transportasi, mintalah keterangan lengkap mengenai spesifikasi kendaraan yang akan Anda tumpangi ketika memesan tempat. Ketika bepergian menggunakan mobil pribadi atau bus, orangtua harus memastikan ada tempat istirahat yang bisa diakses oleh penyandang cacat di tengah perjalanan.

Jangan lupa, bawalah makanan, obat, air minum dan batere lebih untuk perlengkapan listrik yang Anda bawa, sebagai persediaan jika diperlukan pada keadaan darurat, seperti pecah ban mobil atau terjebak kemacetan parah.

KAMAR UNTUK SEMUA

Pilihlah hotel atau tempat wisata yang ramah bagi penyandang cacat. Sama seperti transportasi, mencari hotel yang ramah bagi penyandang cacat pun tak kalah pentingnya. Anda harus memastikan hotel tempat menginap memiliki akses keluar masuk yang mudah, serta dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus anak Anda.

Ketika berbicara dengan pegawai hotel, mereka mungkin hanya berpikir, orang cacat paling-paling yang menggunakan kursi roda, tanpa memikirkan jenis cacat lain. Namun, walaupun anak Anda menyandang cacat yang tak dapat segera teridentifikasi orang awam, hotel seharusnya tetap mampu mengakomodasi kebutuhan Anda. Jadi, katakan dengan jelas cacat yang diderita anak, dan apa saja yang Anda butuhkan. Jika mereka tak memiliki apa yang Anda butuhkan, cari hotel lain. Lalu, apa yang harus dilakukan jika setiba di hotel, ruang kamarnya tak cocok bagi penyandang cacat? Mintalah bantuan orang-orang di sekeliling Anda. Anda harus bisa berteman dengan para pegawai hotel dan minta bantuannya. Jangan takut untuk memindahkan barang di sekitar ruang, atau menyesuaikan kondisi kamar. Anda pasti bisa beristirahat lebih tenang jika tempatnya telah disesuaikan.

SAATNYA BEPERGIAN!
Hari “H” pun tiba. Anda sudah merencanakan sebaik mungkin dan siap berlibur. Tetapi, bagaimana jika tiba-tiba ada hal yang tak beres terjadi? Persiapan adalah satu cara untuk memastikan agar semua orang dapat menikmati perjalanan. Seperti yang kerap terjadi dalam kehidupan, suatu perjalanan pun tak dapat diramalkan.

Begitu banyak hal bisa terjadi dan secara teori sesuatu hal bisa saja terjadi di luar rencana. Jadi, analisalah sebelumnya, pelajari, serta pahami dengan pasti, apa saja yang harus dilakukan jika hal yang tak diinginkan terjadi tiba-tiba.

Sumber: http://www.tabloidnova.com/ ( Ditulis oleh farida | Ditulis di ABK | Ditulis tanggal 14 Aug 2008)
http://mommygadget.com/2008/08/14/bepergian-bersama-anak-cacat/

MERAWAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

MERAWAT anak berkebutuhan khusus dapat menguras banyak waktu dan energi, mulai dari mencari informasi seputar kondisi anak, membuat janji konsultasi dengan dokter-dokter spesialis, sampai mencari sekolah yang menyediakan fasilitas plus akomodasi memadai.Tanpa disadari, berbagai detil yang menyita perhatian tersebut dapat membuat orangtua menjadi abai terhadap keberadaan anak-anak lain. Padahal, meskipun memiliki kemampuan di atas saudaranya yang membutuhkan perlakuan ekstra, anak-anak ini juga memerlukan perhatian dan limpahan kasih sayang.Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk mengatur jadwalnya secara terorganisir, dan menyisihkan waktu luang untuk bermain bersama anak-anak yang lain. Sediakan waktu berkualitas untuk masing-masing anak, paling tidak satu kali dalam seminggu.

Pastikan setiap anak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, baik secara fisik maupun emosional, sehingga tidak ada yang merasa tersingkirkan. Tunjukkan bahwa mereka semua spesial agar tidak terjadi kecemburuan, meskipun orangtua lebih banyak melimpahkan perhatian kepada saudara mereka yang berkebutuhan khusus.Selain itu, ajak anak-anak untuk belajar memahami kebutuhan saudara mereka. Jelaskan mengenai keterbatasan saudaranya dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan terangkan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu.

Bangun interaksi dengan mengajak anak-anak untuk ikut menjaga saudaranya, sesuai dengan usia dan kemampuan masing-masing. Misalnya, anak yang sudah cukup dewasa bisa mengajak saudaranya yang berkebutuhan khusus untuk berjalan-jalan di taman pada sore hari, atau melakukan aktivitas lainnya.Jika tidak sanggup mengurus berbagai hal tersebut sekaligus, jangan sungkan untuk meminta bantuan dari pihak lain. Hal utama yang harus disadari orangtua dengan anak berkebutuhan khusus yakni, mereka tidak seorang diri menghadapi masalah ini.

Apabila memiliki anak lain yang masih bayi atau berusia di bawah lima tahun, sewa jasa seorang babysitter. Selain itu, dukungan moral dan tenaga dari orangtua, saudara, teman, atau bahkan tetangga, tentu juga sangat berharga.

Terakhir, orangtua yang mengasuh anak berkebutuhan khusus pasti mengalami stres pada level yang lebih tinggi. Oleh karena itu, redakan ketegangan dengan meluangkan waktu sejenak bagi diri sendiri. Setelah pikiran tenang, energi pun bisa dipusatkan kembali untuk merawat orang-orang yang disayangi.

Sumber : Sumber: Yulia Permata Sari ( Ditulis oleh farida | Ditulis di ABK | Ditulis tanggal 04 Jun 2009)
http://mommygadget.com/2009/06/04/merawat-anak-berkebutuhan-khusus/

Ani Yudhoyono Buka Konser Anak Berkebutuhan Khusus

Jakarta (ANTARA News) - Ani Yudhoyono membuka konser anak berkebutuhan khusus yang digelar oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerjasama dengan Departemen Kesehatan di Ruang Flores, Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis malam.

Konser anak berkebutuhan khusus menghadirkan Tari Saman oleh anak bertalenta khusus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), permainan angklung oleh anak-anak pengidap `down syndrome`, serta acara utama konser piano anak berkebutuhan khusus dari Korea Selatan, Hee Ah Lee.

Hee Ah Lee sejak lahir hanya memiliki empat jari dan mengidap `ectrodoctyly`, atau dikenal dengan sindrome capit lobster. Hee Ah Lee berhasil menunjukkan kekuatan keyakinan dengan kemampuannya bermain piano. Pada usia 23 tahun, ia sudah mengadakan 17 kali pertunjukan di berbagai negara.

Menurut ketua panitia konser, Amdani Hendarman Supanji, konser anak berkebutuhan khusus itu diadakan untuk memberi inspirasi kepada orang tua, terutama yang memiliki anak berkebutuhan khusus, agar anak mereka pun bisa berkembang dan memiliki cita-cita.

Konser itu juga diadakan untuk menggalang dana bagi pusat-pusat rehabilitasi atau yayasan yang membina anak-anak berkebutuhan khusus.

Pada acara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, memberikan sumbangan dari Departemen Kesehatan kepada tujuh panti atau yayasan anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dari anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.

Anak yang termasuk golongan itu adalah tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak anak dengan gangguan kesehatan.(*)

Sumber : Kamis, 6 Agustus 2009 22:29 WIB | Hiburan | Musik | Dibaca 771 kali
http://www.antara.co.id/berita/1249572540/ani-yudhoyono-buka-konser-anak-berkebutuhan-khusus

KKN PPM MODEL PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS YANG MISKIN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Anak Berkebutuhan Khusus (anak cacatABK) mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dengan anak normal, hal tersebut tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara, bahwa setiap warga negara termasuk ABK. Penyelenggaraan pendidikan bagi ABK ternyata biayanya sangat mahal untuk mengakselerasi belajarnya, baik untuk melengkapi ruangan dan sarananya serta alat-alat bantu yang diperlukan. Pendidikan yang mahal tersebut sudah barang tentu tidak akan terjangkau oleh ABK yang miskin dan daerah terpencil, sehingga mereka banyak yang tidak sekolah. Pemerintah mengadakan wajar dikdas, disisi lain ABK miskin tidak dapat bersekolah karena biaya pendidikan yang mahal.

Solusi dari masalah ini dapat dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat yang peduli. Karena masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Selain itu, masyarakat juga berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Tampaknya masyarakat di kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur provinsi Jawa Barat, mempunyai potensi yang dapat diberdayakan untuk mendidik anak berkebutuhan khusus yang miskin di daerahnya. Dari hasil penjaringan mahasiswa PLB FIP Universitas Pendidikan Indonesia dalam kegiatan PPM tahun 2007 di kecamatan Sukanagara, terdapat 66 anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat sekolah karena miskin. Agar dapat sekolah, solusinya masyarakat perlu diberdayakan dengan cara diberi pelatihan tentang cara mengajar membaca, menulis, berhitung, keterampilan dasar, dan aktivitas kegiatan hidup sehari-hari pada ABK. Mahasiswa yang diterjunkan sebanyak 30 orang dari jurusan PLB, PLS dan MRL FIP UPI.

Kegiatan KKN PPM ini bermitra dengan Depdiknas, dengan sasaran tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK dan Posyandu, serta para guru dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan ABK miskin di daerahnya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah agar meningkatnya kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan ABK yang miskin, terlatihnya kader yang ada di masyarakat, yang dapat mengajar membaca, menulis, dan berhitung pada ABK di daerahnya. Masyarakat dapat mengajar keterampilan dasar dan aktivitas kehidupan sehari-hari pada ABK miskin di daerahnya, mahasiswa dapat mengatasi masalah pendidikan ABK melalui pemberdayaan masyarakat, dapat merencanakan pelatihan kader, dan memperoleh mitra kerja yaitu Depdiknas. Dengan demikian kegiatan KKN ini diharapkan dapat menemukan model pendidikan ABK, terbinanya kader, meningkatnya partisipasi masyarakat dan terwujudnya pembelajaran pemberdayaan masyarakat.

Penanggung jawab kegiatan ini adalah Dra. Sri Widati, M.Pd., dengan Dosen Pembimbing Lapangan 5 orang dari FIP UPI, yaitu Dr. Juang Sunanto, Ph.D, Drs. Sunaryo, M.Pd., Drs. Nandi Warnandi, M.Pd. dan dr. Euis Heryati.

Kegiatan KKN PPM ini dilaksanakan di 4 desa kec. Sukanagara, yaitu 1) desa Sukarame terdiri atas 8 mahasiswa, 2) desa Sukanagara 7 mahasiswa, 3) desa Sukamekar 7 mahasiswa dan 4) desa Gunungsari 8 mahasiswa. Acara pelepasan pemberangkatan tanggal 21 Oktober 2008 dan berakhir pada tanggal 21 Nopember 2008.

Dari hasil evaluasi proses ditemukan bahwa para kader sudah mulai mampu mengajar ”calistung” dengan metoda VAKT, keterampilan dasar, dan kegiatan hidup sehari-hari serta menulis braille dan bahasa isyarat pada ABK. Adapun rencana panjang dari program ini adalah dibentuknya kelompok belajar di setiap desa dan dirintisnya Sekolah Luar Biasa (SLB), karena ada seorang kepala desa yang telah menyediakan lahannya untuk didirikan SLB di desa.

Sumber : 24 Nov 2008 | Buletin
http://lppm.upi.edu/2008/11/24/kkn-ppm-model-pendidikan-bagi-anak-berkebutuhan-khusus-yang-miskin-melalui-pemberdayaan-masyarakat/

Dukungan Tulus bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Sam Dawson adalah seorang pria penyandang autisme yang secara mandiri menjalani hidupnya dan bekerja pada sebuah kedai kopi. Menariknya, hidup Sam pun berubah saat memiliki anak. Walaupun memiliki keterbatasan, dia terus berdedikasi menjadi ayah yang baik, yang mampu membesarkan anaknya dengan upaya dan perjuangan keras.

Itulah cerita I am Sam, film keluarga yang dirilis tahun 2001 dan dibintangi Sean Penn, aktor kawakan Amerika. Ceritanya mampu menggambarkan bagaimana seorang penyandang autisme hidup berdampingan dengan masyarakat bahkan mampu bersosialisasi. Anak autisme atau berkebutuhan khusus, bisa mandiri apabila orang-orang di sekitarnya mau menerima dan mendukungnya.

Definisi
Menurut situs Yayasan Autisme Indonesia, autisme bukanlah penyakit, tapi merupakan gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan memengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya, anak tidak dapat otomatis belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Dari tahun ke tahun, jumlah anak penyandang autisme terus bertambah di dunia. Tidak pandangan suku, ras, etnis, kelompok masyarakat, dan perbedaan fisik, autisme bisa terjadi pada siapa pun. Seperti informasi dari situs Autismworld, diperkirakan setiap hari ada 50 anak yang terdiagnosa autisme. Penyandangnya lebih banyak laki-laki dibanding anak perempuan dengan perbandingan 4:1.

Deteksi Autisme
Observasi perilaku bisa mulai dilakukan saat anak-anak masih berusia dini di bawah umur tiga tahun atau saat bayi sekalipun. Biasanya, para orangtua mulai merasakan ada kejanggalan dibandingkan anak-anak seumurnya. Danny Tania, Program Manager & Acting Principal Linguistic Council, memaparkan bahwa untuk membantu mendeteksi anak mengalami autisme atau tidak, bisa dilihat dari sensory processing disorders, baik berupa over sensitive atau under sensitive.

Anak-anak penyandang autisme umumnya mengalami suatu hambatan dan kerusakan fungsi bagaimana mereka memroses panca indera dari lingkungan sekitar. Akibatnya, anak penyandang autisme cenderung bersikap aneh, misalnya menarik diri, cuek, marah-marah, atau impulsif.

Langkah Tepat
Oleh karena itu, kemampuan orangtua dalam mendeteksi dini akan memberikan pengaruh yang amat bermakna bagi masa depan anak penyandang autisme. Pasalnya, tanggung jawab terbesar dan ikatan emosional dalam membesarkan anak ada di tangan mereka.

Di sinilah, orangtua memerlukan observasi akurat dan perlu melibatkan para pakar di masing-masing bidangnya. Danny menyarankan ada tiga jenis pakar yang sudah berpengalaman dalam menangani anak berkebutuhan khusus seperti autisme, yakni psikolog klinik dengan spesialisasi tumbuh kembang anak, pediatric neurologist dan terapis okupasi.

Orangtua dapat berperan sebagai asisten guru atau asisten sang psikolog. Bahkan saat pembuatan Individualize Education Plan (IEP), mereka bisa memberikan informasi penting untuk anaknya dalam tahap usia tertentu.

Untuk membantu mengasah kemampuan orangtua, mereka dapat mengikuti program pelatihan dan pendidikan kebutuhan khusus yang tersedia di Linguistic Council. Di lembaga ini, tidak hanya para orangtua, tapi guru dan pemerhati bisa mendapatkan keterampilan khusus dan pemahaman yang tepat tentang bagaimana mendeteksi, mengajar, serta membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya autisme, disleksia, ADD/ADHD, dipraksia, atau anak-anak dengan learning difficulties.

"Jangan jauhi anak-anak berkebutuhan khusus, namun dukung mereka agar kelak dapat mandiri, menyesuaikan diri dengan orang-orang dan lingkungan sekitar. Di samping itu, juga dapat memaksimalkan potensinya dan menyumbangkan kemampuannya kepada masyarakat, dalam arti sudah bisa bekerja," ujar Danny menutup pembicaraan.

Sumber : kompas.com
http://www.tribunpontianak.co.id/read/artikel/7644/dukungan-tulus-bagi-anak-berkebutuhan-khusus

Terapi Oksigen HyperBaric untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Kini para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus semisal autis, celebral palsy (CP), epilepsi, down sindrome bisa mendapatkan alternatif terapi melalui terapi oksigen Hyperbaric atau disebut juga HBOT.
Goh Khoon Seng dari Poliklinik Baromed, Pusat Terapi Oksigen di Kuala Lumpur Malaysia didamping Rizman Dato' Haji Azahar saat berbicara pada seminar Hyperbaric Oxygen Therapy dihadapan para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus mengatakan meski belum dapat diterima secara ilmiah sebagai terapi pilihan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, namun ada rujukan yang menunjukkan kemajuan pada anak-anak tersebut.
"Meski ada tanda-tanda menunjukkan kemajuan pada anak-anak berkebutuhan khusus setelah menjalani HBOT, namun hal ini belum bisa diterima secara ilmiah sebagai terapi pilihan," kata Goh Khoon Seng yang memberikan pemaparan HBOT di klinik HMC Jalan Hayam Wuruk Medan, pusat terapi anak berkebutuhan khusus (autis), Selasa (2/2).
Dijelaskan Goh Khoon Seng, HBOT merupakan terapi untuk menyalurkan kepada pasien oksigen 100 persen dengan tekanan yang lebih besar dari normal (biasanya setara dengan tekanan 5-10 meter dibawah air) melalui kamar (ruangan) yang didisain khusus. Tujuannya untuk menaikan jumlah ketersediaan oksigen pada orang tersebut.
Udara yang kita hirup terdiri dari 21 persen oksigen. Namun dengan menghirup oksigen 100 persen pada tekanan tinggi, oksigen dalam jumlah besar akan disalurkan ke jaringan dan larut dalam cairan tubuh, cairan plasma cerebrospinal dalam otak dan limpa. Oksigen di bawah tekanan larut dalam hemoglobin dan plasma hingga 15 kali lebih besar dari oksigen biasa.
Di Malaysia HBOT sudah mulai dikenalkan oleh Dr Mustapha Kamar Karim, salah seorang dokter yang banyak mempelajari tentang HBOT dan telah memiliki sertifikasi dasar dan lanjutan pada Officer Diving & Hyperbaric Medicine Course di Rumah Sakit Royal, Australia. Di Poliklinik Baromed para pasien HBOT akan dipandu oleh dr Mustapha Kamar Karim.
HBOT kata Goh Khoon Seng memiliki keefektifan terapi pada penderita diabetes sehingga tidak perlu diamputasi kakinya. Cara kerja HBOT, HBOT akan mengecilkan pembuluh darah dan mengurangi bengkak dan HBOT akan menambahkan kepekatan oksigen di kawasan tertentu.
HBOT juga merangsang pertumbuhan kolagen yang sangat diperlukan untuk memulihkan luka pada penderita diabetes. Terapi ini juga untuk memperkuat keupayaan sel-sel darah putih untuk membasmi bakteria, merangsang pertumbuhan dan pembukaan pembuluh darah.

HBOT hanya diberikan kepada pasien yang membutuhan oksigen medis. Oleh karenanya pemberian HBOT harus mengacu pada aturan yang telah ditetapkan yakni pasien yang menerima HBOT tidak dibolehkan menyelam (berenang boleh), tidak boleh naik pesawat terbang (minimal 24 jam setelah pemberian HBOT), jangan makan terlalu banyak, hindari makan/minuman bersoda, jangan menggosokan gigi 24 jam sebelumnya, jangan melakukan HBOT jika demam, HBOT juga tidak boleh diberikan pada penderita asma dan penyakit paru-paru.
Untuk anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan HBOT berdasarkan kasusnya dan biasanya sesuai dengan saran dokter, setelah melakukan HBOT, anak berkebutuhan khusus akan direkomendasikan kembali untuk melakukan HBOT dalam waktu 1-2 bula jika ada peningkatan yang baik.
Namun perlu diingat HBOT dilarang untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan keguguran pada kehamilan muda. ***


Sumber : >>imbc, medan (Rabu 3 Februari 2010 — Admin)
http://www.inimedanbung.com/node/6135

Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus

PERLU perhatian khusus untuk membesarkan anak berkebutuhan khusus. Bila dibimbing secara maksimal, mereka bisa tumbuh seperti anak normal lainnya.

Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat jumlahnya. Pada Hari Autis Sedunia yang jatuh pada 8 April lalu diketahui bahwa prevalensi anak berkebutuhan khusus saat ini mencapai 10 anak dari 100 anak. Berdasarkan data ini menunjukkan 10 persen populasi anak-anak adalah anak berkebutuhan khusus dan mereka harus mendapatkan pelayanan khusus.

Anak yang dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosional atau perilaku, hambatan fisik, komunikasi, autisme, traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, dan anak-anak yang memiliki bakat khusus.

"Mereka secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai aktualisasi potensinya secara maksimal," ucap Dra Psi Heryanti Satyadi MSi saat acara seminar bertema "Mengatasi Anak Berkebutuhan Khusus/Special Needs" yang diselenggarakan KiddyCuts.

Psikolog yang berpraktik di Jalan Paku Buwono VI Nomor 84 Kebayoran Baru ini juga mengatakan, eningkatnya populasi anak berkebutuhan khusus ini salah satunya karena perubahan gaya hidup. "Banyak penyebab meningkatnya angka populasi ini. ang pertama adalah karena semakin banyaknya orang yang peduli terhadap anak berkebutuhan khusus dan adanya perubahan gaya hidup yang memang berbeda pada zaman dulu," ujarnya psikolog dari I Love My Psychologist ini.

Di zaman sekarang ini, banyak orang tua yang hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Hal tersebut juga berdampak pada anak-anak yang menjadi kurang perhatian, terutama pada anakanak yang berkebutuhan khusus. "Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya," papar psikolog yang berpraktik di Kawasan Kelapa Gading ini.

Penyebab seorang anak mengalami keterbelakangan mental ini disebabkan beberapa hal. Antara lain dari dalam dan dari luar. Jika dari dalam adalah karena faktor keturunan.

Sedangkan dari luar memiliki banyak penyebab. Penyebab dari luar ada beberapa faktor. Satu di antaranya karena maternal malanutritisi (malanutrisi pada ibu). Ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang tidak menjaga pola makan yang sehat, keracunan atau efek substansi.

Hal tersebut bisa memicu kerusakan pada plasma inti, kerusakan pada otak waktu kelahiran, gangguan pada otak. Misalnya tumor otak, bisa juga karena gangguan fisiologis seperti down syndrome.

"Penyebab dari luar juga bisa. Misalnya karena pengaruh lingkungan dan kebudayaan. Biasanya ini terjadi pada anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk. Kasus abusif, penolakan atau kurang stimulasi yang ekstrem dapat berakibat pada keterbelakangan mental," katanya.

Pada umumnya, anak-anak yang berkebutuhan khusus dan sebagian anak normal mengembangkan suatu bentuk perilaku yang perlu perhatian dan penanganan secara khusus dan hati-hati.

Perilaku tersebut bisa saja terjadi karena anak merasa frustrasi tidak dapat mengekspresikan dirinya dengan kata-kata yang komunikatif agar dipahami orang lain. Akhirnya amarahnya meledak dan mengamuk.

"Banyak anak berkebutuhan khusus mengalami masalah serius dalam pengendalian perilaku dan memerlukan bantuan untuk mengendalikan ledakan-ledakan perilaku agresif, yang tidak relevan dengan situasi sosial sehari-hari," papar ibu dua anak ini.

Dokter ahli kejiwaan Dr Ika Widyawati SpKJ (K) mengatakan, anak yang perlu penanganan khusus tidak harus belajar di sekolah khusus. Mereka bisa saja disekolahkan di sekolah umum bersama anak normal lainnya.

"Jika anak disekolahkan di sekolah umum, itu adalah langkah yang tepat dilakukan orang tua asalkan mereka bisa mengikuti pelajarannya," ujar Kepala Divisi Psikiatri Anak Departemen Psikiatri FKUI/RSCM tersebut.


Sumber : (Koran SI/Koran SI/tty)
http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/165-dampingi-anak-berkebutuhan-khusus

Anak Berkebutuhan Khusus Perlu Perhatian

Kepedulian keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perlindungan dan
pelayanan pendidikan kepada anak penting dilakukan. Tidak hanya pada anak dengan kondisi
normal tetapi juga untuk anak-anak yang memiliki permasalahan dalam perilaku kesehariannya.
Hal ini terungkap dalam Seminar Interaktif Psikologi dengan tema menangani anak
berkebutuhan khusus (ABK) dan gifted, Kamis (23/7) di Aula Dinas Kesehatan Propinsi
Kalimantan Barat. Pembicara dalam seminar ini, Imam Affandi, mengatakan berbagai kasus
tentang berbagai permasalahan yang terkait dengan perilaku dan permasalahan anak, seperti
autis, retaldarsi mental (down syndrome), gifted dan kreatif (talent).
“Namun kenyataannya di Indonesia perhatian masyarakat maupun para ahli terhadap anak
autis maupun gifted masih sangat minim dan sifatnya masih insidental,” ucap Imam.
Terkait dengan masalah anak berkebutuhan khusus (ABK), perlu mendapat perhatian serius
dari semua pihak. “Mereka memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan
kekhususannya,” paparnya.
Imam menyebutkan kategori ABK ada dua yaitu ABK yang bersifat permanen dan temporer.
ABK yang bersifat permanen ini antara lain akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang
cacat). Sedangkan ABK yang bersifat temporer seperti anak yang mengalami hambatan belajar
dan hambatan perkembangan.
“Anak-anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat
sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen,” terangnya.
Ia mengharapkan sikap acceptance (menerima, red.) merupakan yang baik untuk dimiliki atau
dikembangkan oleh orangtua. Sikap seperti ini, menurut Imam, ternyata memberikan kontribusi
kepada pengembangan kepribadian anak yang sehat. Tidak ubahnya dengan anak-anak yang
lain, anak gifted juga harus diberikan pola asuh yang terbaik dari orang tua mereka.
Sementara itu, Wakil Walikota Paryadi ketika membuka acara seminar mengatakan
masyarakat pihak terkait lainnya harus tetap mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak
dan memberikan perlindungan terhadap kelangsungan hidup anak.
“Hal ini dapat terwujud apabila melibatkan instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat
(LSM), organisasi pemerhati anak dan organisasi anak serta remaja,” kata Paryadi.


Sumber : Ditulis oleh Eko Susilo
Jumat, 24 Juli 2009 09:48
http://www.borneotribune.com/pdf/pontianak-kota/anak-berkebutuhan-khusus-perlu-perhatian.pdf

Rabu, 14 April 2010

Anak dengan kebutuhan khusus

Anak-anak itu begitu unik. Kadang sulit diduga, kadang membuat frustrasi, tapi di lain waktu menumbuhkan semangat.

Menghadapinya memang memerlukan kesabaran tinggi, ketelatenan, waktu yang cukup, keinginan dan kemauan untuk memahami.

Sekali waktu dia terlihat seperti anak manis yang begitu dekat dengan kita. Di waktu lain dia jauh tak teraih.

Dia tidak buta, tapi kadang matanya sulit untuk melihat yang harus dia lihat. Tidak tahu apa yang dia lihat.

Dia tidak tuli, tapi seringkali dia seakan tak mendengar, cuek bebek tidak merespon, membuat kita seperti tak ada.

Dia tidak bisu tapi mulutnya seakan sulit membentuk kata-kata (bicara itu susah, tahu! kata seorang anak lewat secarik kertas)

Seorang anak akan mengatakan (bila ia bisa menulis) bahwa ia tidak tahu kenapa badannya ingin bergerak terus. Padahal ia sangat lelah, lalu iapun menangis karena kelelahan; tapi badannya tak bisa diperintah untuk diam.

Anak lain bahkan marah pada tangannya, karena tidak mau menurut ketika diperintahkan untuk menyendok makanan..

Setiap anak tentu berbeda, karena tidak pernah ada anak yang sama. Tapi untuk anak-anak ini, perbedaan mereka menjadi begitu penting dan menentukan.

Adalah sangat bijak untuk mendekati dan mengenali anak sedalam mungkin sebelum melakukan sesuatu. Karena terkadang teori-pun jadi kurang relevan.


Sumber :Ibu TPD. Bogor,07/20/2005
http://puterakembara.org/archives10/00000006.shtml

Apakah Autis itu dan Apa yang bisa Kita Lakukan?

Autis adalah penyakit atau gangguan pada perkembangan otak yang diperkirakan menyerang 1 dari 1.000 orang di Amerika. Orang yang menderita autis biasanya kurang mampu berbahasa dan tidak mampu bergaul dengan lingkungan sosialnya. Sekitar 80% dari jumlah penderita autis adalah laki-laki. Mengapa demikian, alasannya tidak diketahui oleh para peneliti.

Hal yang juga tidak diketahui adalah penyebab autis. Segala sesuatu dari perubahan genetik hingga kontak kandungan ibu dengan penyakit sampai ketidakseimbangan kimia telah dipersalahkan. Namun ternyata, faktor-faktor orangtua bisa diabaikan sebagaimana yang dianjurkan oleh beberapa peneliti.

Walaupun diinformasikan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan penyakit anak mereka ini, beberapa orangtua terus-menerus mengatakan bahwa mereka merasa bersalah karena tidak mampu berinteraksi dengan anak mereka. Berikut ini adalah apa yang diketahui tentang autis.

1.

Kesulitan dengan kemampuan organisasi
Penderita autis lepas dari kemampuan intelektual mereka, ternyata memiliki kesulitan mengatur diri mereka sendiri. Seorang pelajar autis mungkin bisa menyebutkan tanggal-tanggal bersejarah setiap perang yang terjadi, namun selalu lupa membawa pensil mereka ke kelas. Murid-murid ini bisa jadi seorang yang sangat rapi atau paling jorok. Orangtua harus selalu ingat untuk tidak memaksakan kehendaknya pada mereka. Mereka hanya tidak mampu mengatur diri mereka sendiri tanpa pelatihan yang spesifik. Seorang anak penderita autis memerlukan pelatihan kemampuan mengatur dengan menggunakan langkah-langkah kecil yang spesifik supaya berfungsi dalam situasi sosial dan akademis.
2.

Seorang penderita autis memiliki masalah dengan pemikiran yang bersifat abstrak dan konseptual
Lepas dari apa yang dikatakan orangtua, beberapa penderita autis akhirnya memperoleh kemampuan abstrak, namun ada juga yang tidak. Pertanyaan: "Mengapa kamu tidak mandi?" nampaknya sesuai untuk dikatakan ketika sedang menghadapi anak yang tidak mau mandi. Dengan anak autis seringkali lebih baik menghindari kalimat pertanyaan yang mengundang perdebatan, sebaiknya Anda mengatakan: "Saya tidak suka kalau kamu tidak mandi. Ayo, masuk ke kamar mandi dan mandi sekarang. Kalau kamu butuh bantuan, saya akan menolongmu tapi saya tidak akan memandikan kamu." Hindari menanyakan pertanyaan yang panjang lebar. Para orangtua ataupun perawat harus sekonkret mungkin dalam seluruh interaksi mereka.
3.

Peningkatan tingkah laku tak wajar mengindikasikan peningkatan stres
Dalam banyak situasi, terutama situasi yang tidak akrab, akan menyebabkan stres sehubungan dengan perasaan atau hilangnya kontrol. Dalam kebanyakan contoh, stres bisa dikurangi ketika anak-anak diizinkan untuk keluar dari situasi yang menekan. Membuat program untuk membantu anak-anak menghadapi stres di sekolah sangat disarankan.
4.

Perilaku mereka yang berbeda janganlah diambil hati
Penderita autis seharusnya tidak dianggap sebagai seorang yang selalu berperilaku menyimpang atau ingin menyakiti perasaan orang lain atau mencoba membuat hidup jadi sulit bagi orang lain. Seorang penderita autis jarang bisa bersikap manipulatif. Umumnya perilaku mereka merupakan hasil dari usaha mereka keluar dari pengalaman yang menakutkan, atau membingungkan. Penderita autis, secara alami karena ketidakmampuan mereka, memiliki sifat egosentris. Kebanyakan penderita autis menghadapi masa-masa sulit untuk bisa memahami reaksi orang lain karena adanya ketidakmampuan persepsi.
5.

Gunakan kata-kata dengan makna sesungguhnya
Secara sederhana, katakanlah apa yang Anda maksudkan. Jika pembicara tidak sangat mengenal si penderita autis, sebaiknya mereka menghindari penggunaan: singkatan/panggilan, ejekan, kalimat bermakna ganda, idiom, dan sebagainya.
6.

Ekspresi wajah dan isyarat-isyarat lainnya biasanya tidak berhasil
Umumnya, mayoritas penderita autis memiliki kesulitan membaca ekspresi wajah dan mentafsirkan bahasa tubuh atau perilaku dengan kesan-kesan tertentu.
7.

Seorang penderita autis nampak tidak mampu mempelajari sebuah tugas
Ini merupakan sebuah tanda bahwa tugas atau tugas-tugas itu terlalu sulit baginya dan perlu disederhanakan. Cara lainnya adalah menghadirkan tugas-tugas itu dengan cara yang berbeda -- baik secara visual, fisik, maupun verbal. Metode-metode ini seringkali diabaikan oleh guru-guru dan orangtua di rumah karena hal ini memerlukan kesabaran, waktu eksperimen, dan kemauan untuk mengubah metode atau kebiasaan lama.
8.

Hindari terlalu banyak informasi atau kata-kata
Para guru dan orangtua harus jelas, menggunakan kalimat-kalimat pendek dengan bahasa yang sederhana untuk menyampaikan maksud mereka. Jika anak-anak tidak punya masalah pendengaran dan bisa memperhatikan Anda, ia mungkin kesulitan memisah-misahkan apa yang diajarkan dan informasi lainnya.
9.

Tetaplah konsisten
Persiapkan dan berikan sebuah daftar pendek pelajaran yang akan Anda ajarkan. Tulislah pada sebuah grafik. Datangi mereka setiap hari pertama-tama dengan anak yang muda. Jika perubahan terjadi, katakan padanya dan ulangi informasi tentang perubahan itu.
10.

Aturlah sikapnya
Meskipun rasanya mustahil, adalah mungkin untuk mengatur sikap anak autis. Kuncinya ialah konsistensi dan pengurangan stres pada anak. Juga dianjurkan untuk melakukan penambahan sikap sosial yang positif dilakukan secara rutin.
11.

Hati-hati dengan lingkungan
Dalam banyak contoh, seorang penderita autis bisa sangat sensitif dengan apa yang ada dalam ruangan. Cat tembok warna cerah atau dengungan lampu pijar sangat mengganggu bagi para penderita autis. Untuk membuat perubahan yang berarti, guru dan orangtua perlu waspada dan berhati-hati terhadap lingkungan dan masalah- masalah yang ada.
12.

Anak yang memiliki perilaku menyimpang atau terus-menerus membangkang merupakan sebuah tanda masalah
Sekalipun anak-anak kadang-kadang berperilaku menyimpang atau membangkang, seorang penderita autis seringkali bersikap demikian ketika dia kehilangan kendali. Ini bisa menjadi sinyal bahwa seseorang atau sesuatu di sekitarnya membuatnya marah atau terganggu. Hal yang sangat menolong ialah keluar dari lingkungan itu atau jika ia bisa menuliskan apa yang mengganggunya, tetapi jangan mengharapkan sebuah respon positif misalnya ia melanjutkan untuk mengerti apa yang sedang terjadi dan apa artinya. Metode keberhasilan lainnya adalah permainan peran dan mendiskusikan apa yang membuatnya marah atau berkelakuan buruk. Biarkan ia menjawab karena ia berpikir Anda akan meresponi tingkah lakunya. Memanfaatkan aktivitas ini akan menolong untuk mengurangi kepadatan sebuah situasi sehingga mengubah fokusnya dengan memperhatikan apa yang mengganggunya.
13.

Jangan menduga apa pun saat mengevaluasi kemampuan atau keahliannya
Orang-orang yang menangani anak-anak autis melaporkan bahwa beberapa orang autis sangat pintar matematika, tetapi tidak mampu menghitung uang kembalian yang sederhana di kasir. Atau, mereka memiliki kemampuan mengingat setiap kata yang ada dalam sebuah buku yang dibacanya atau pidato yang ia dengar, tetapi tidak ingat untuk membawa kertas ke kelas atau dimana ia menaruh sepatu olahraganya. Perkembangan kemampuan yang tidak seimbang merupakan sifat autisme. Autisme, sebagaimana disebutkan di atas, tidak begitu diketahui atau dipahami dengan baik. Ini masih merupakan masalah yang membingungkan bagi orangtua, guru dan mereka yang bekerja dan mengobservasi anak-anak semacam ini.
14.

Kunci
Kunci untuk bekerja dengan penderita autis ialah: BERSABARLAH, BERPIKIRAN POSITIF, KREATIF, FLEKSIBEL, dan OBJEKTIF.

Tips tambahan bagi para orangtua:

1.

Temuilah dokter
Jika Anda menduga anak Anda menderita autis, temui seorang dokter ahli dan mintalah diagnosa. Mintalah penjelasan kepada mereka dan tanyakan sebanyak mungkin pertanyaan yang menurut Anda perlu ditanyakan. Bersikaplah kritis! Jangan menunggu mereka memberikan informasi kepada Anda karena Anda akan menunggu begitu lama tanpa jawaban.
2.

Pelajarilah hak-hak orang cacat
Biasakanlah diri dengan tindakan-tindakan orang cacat. Jangan takut untuk mengajukan permintaan pada dokter medis, sekolah, pengurus sekolah atau para guru. Mereka hanya akan melakukan apa yang diperintahkan atau diminta pada mereka. Dalam hal ini, kesabaran, kegigihan, pengetahuan, dan sikap menghormati akan memberikan hasil yang baik.
3.

Carilah bantuan
Banyak anak cacat tidak pernah memperoleh bantuan karena orangtua mereka merasa takut dan malu. Ingat, tidak ada hal yang telah Anda lakukan yang menyebabkan kecacatan ini terjadi. Orang lain juga punya masalah yang serupa. Ada pertolongan untuk anak Anda. Teruslah mencari informasi.
4.

Bersabarlah
Jangan menyerah. Ingatlah bahwa anak Anda tidak suka bertindak seperti itu tetapi mereka hanyalah berusaha untuk mendapatkan perhatian dari dunia dan sekitar mereka.
5.

Jangan berulang-ulang berusaha melatih sebuah tugas kepada anak
Penderita autis biasanya menolak perubahan aktivitas rutin. Memaksa anak autis melakukan sesuatu justru bisa jadi malapetaka. Lebih baik jika Anda melihat ia mengalami kesulitan, mundurlah dan cobalah untuk memecahkan tugas itu menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan mudah dikerjakan. Ini artinya ia telah mencapai batasnya -- sebagaimana kita semua juga bisa demikian. Cobalah untuk memberikannya pilihan. Ini akan memberinya indera



sumber : Judul Artikel:
Situs Faithwriters
Penulis Artikel:
http://www.faithwriters.com/article-deta
Situs:

http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/091/
Submitted by admin on Sun, 31/07/2005 - 00:00.
http://c3i.sabda.org/apakah_autis_itu_dan_apa_yang_bisa_kita_lakukan

Apakah Anak Saya Autis?

PERTANYAAN
Perkembangan putra sulung saya sangat memprihatinkan. Dia tak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan lebih senang mengucilkan diri ketimbang bermain dengan teman-teman seusianya. Saya harus berteriak saat memanggil, untuk membuatnya menoleh ke arah saya. Tidak cuma itu, dia juga kurang `nyambung` kalau diajak bicara. Apalagi kalau saya berkomunikasi lewat telepon, padahal usianya sudah 5 tahun. Awalnya, saya kira dia punya kelainan dengan telinganya. Tetapi setelah diperiksa, dokter bilang telinga anak saya baik-baik saja. Yang lebih mengkuatirkan, dia sanggup menangis berjam-jam jika sedang marah atau ngambek.

Seorang teman mengatakan kemungkinan anak saya menderita autis. Ketika saya bawa ke dokter, diagnosanya menyatakan baru sebatas gejala dan anak saya disarankan ikut terapi. Yang ingin saya tanyakan, benarkah semua perilaku anak saya adalah gejala autis? Kalau ya, bisakah disembuhkan dan bagaimana perkembangannya setelah dia dewasa? Apakah autis berkait erat dengan keterbelakangan mental?

JAWABAN
Austis adalah gangguan perkembangan yang luas yang terjadi pada anak, dan bisa terjadi pada siapa saja. Anak yang menderita autis biasanya mengalami gangguan perkembangan di bidang komunikasi, interaksi, perilaku, emosi, dan sensoris. Gejala autis sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun, yakni:

* tidak adanya kontak mata,
* tidak menunjukkan respon terhadap lingkungan,
* kurang dalam berhubungan dengan orang lain (misalnya dalam bentuk komunikasi non verbal yang lemah),
* kurang ekspresif serta kurang beremosi.

Selain itu, perkembangan bahasanya juga lambat. Misalnya:

* jumlah kosa kata yang dikuasai sangat minim dan tidak sesuai dengan usianya,
* kurang berinisiatif dalam berkomunikasi dengan orang lain,
* penggunaan bahasa yang diulang-ulang,
* kurang spontan,
* mengulang-ulang gerakan dan sebagainya.

Jika tidak dilakukan terapi, maka setelah usia 3 tahun perkembangan anak akan terhambat atau mundur, seperti misalnya, kurang mengenal suara orangtuanya dan kurang mengenal namanya.

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Namun diduga akibat gangguan neurobiologis pada susunan syaraf pusat, yaitu:

* faktor generik,
* gangguan pertumbuhan sel otak pada janin,
* gangguan pencernaan,
* keracunan logam berat,
* dan gangguan autoimun.

Mengenai kesembuhan penyakit autis, sebetulnya tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya faktor gangguan pada otak, maka autis tidak dapat sembuh total, meski gejalanya dapat dikurangi dan perilakunya dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi.

Untuk anak Anda, sebelum menjatuhkan vonis autis, sebaiknya Anda membawanya ke psikiater anak agar bisa diperiksa secara lebih terarah. Dengan demikian, bisa diketahui apakah betul anak Anda menderita penyakit autis atau tidak. Ini dilakukan agar Anda bisa mengambil langkah ke depan secara lebih tepat. Anda juga dapat melakukan berbagai tindakan seperti, mengamati perilaku anak secara mendalam, mengetahui riwayat perkembangannya, melakukan pemeriksaan medis (kerjasama dengan dokter, psikolog), serta melakukan terapi wicara dan perilaku. Yang pasti, terapi ini bisa memakan waktu lama, sampai berbulan-bulan. Keberhasilan terapi itu sendiri tergantung diagnosa. Semakin dini diagnosa dilakukan, semakin tinggi keberhasilan pengobatan anak Anda.


Sumber : Submitted by admin on Sun, 31/07/2005 - 00:00
Judul Artikel:
Situs Parentsguide
Penulis Artikel:
http://www.parentsguide.co.id/asktheexpe
Situs:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/091/
http://c3i.sabda.org/apakah_anak_saya_autis

Putra Saya Cacat

Pertanyaan

Bapak Palau, anak saya lahir dalam keadaan cacat. Kakinya pendek sebelah. Setahun setengah kemudian, ia kehilangan tiga jari tangannya dalam sebuah kecelakaan. Walaupun demikian, ia dapat menulis dengan baik, dapat bermain-main, dan sangat aktif. Tetapi, kelak bila ia dewasa, saya pikir ia akan menderita secara psikologis sebab ia cacat. Bagaimanakah saya dapat menolong anak saya?

Jawaban

Anda tadi mengatakan bahwa keadaan cacat jasmani anak Anda tidak menghalangi dia unggul dalam beberapa kegiatan fisik. Bapak senang mendengarnya. Tetapi, Anda belum memberitahu saya apa yang membuat anak Anda cacat sejak lahir dan berapa umurnya. Kedengarannya anak Anda dapat dengan baik mengatasi keadaannya yang cacat.

Sudahlah lumrah bila seseorang yang cacat berusaha menutupi kekurangannnya sampai-sampai ia menjadi lebih unggul daripada yang lain. John Powell memberi beberapa contoh di dalam bukunya, "Why Am I Afraid To Tell You Who I Am?" (Mengapa Saya Takut Memberitahu Anda Siapa Saya?).

Glenn Cunningham adalah pelari jarak jauh pertama Amerika yang terkenal. Ia menjadi jagoan mungkin karena usahanya yang tangguh menguatkan kakinya. Kakinya menjadi pincang pada usia tujuh tahun. Pada waktu itu, ia nyaris tewas dalam musibah kebakaran.

Charles Atlas menjadi bina ragawan (body builder) pertama yang terkenal sebab ketika remaja ia malu dengan keadaan tubuhnya yang lemah dan kecil.

Saya yakin Anda sependapat dengan saya bahwa Anda tidak khawatir akan keadaan fisik anak Anda. Yang mengkhawatirkan Anda ialah kalau-kalau jiwanya akan menderita karena tubuhnya cacat. Sedikit banyak, kita semua juga mengalami penderitaan mental dan emosi.

Efek dari penderitaan itu lebih berkaitan dengan keadaan batin kita daripada keadaan fisik kita.

Konon, setiap ketidakberuntungan memunyai imbangan keuntungan yang sama besarnya atau bahkan lebih besar lagi. Saya menyetujuinya. Keadaan fisik anak Anda sebenarnya dapat menolong dia menjadi lebih kuat secara psikologis. Berilah dorongan agar ia juga unggul secara intelektual, moral, dan sosial.

Mertua perempuan saya terkena penyakit polio pada usia 42 tahun. Sampai sekarang ia sudah 20 tahun menggunakan kursi roda, tetapi ia tidak membiarkan keadaannya yang cacat itu membatasi perkembangan kepribadiannya ataupun hubungannya dengan orang lain. Sebagai contoh, setiap hari Rabu ia memimpin kelompok kaum pemudi. Ia membawa dampak yang baik bagi mereka.

Ada banyak contoh tentang orang-orang yang menjadi unggul kendati keadaan tubuh mereka cacat. Doronglah anak Anda untuk membaca kisah kehidupan orang-orang seperti Florence Nightingale (yang mengorganisasi kembali rumah-rumah sakit Inggris sementara ia sendiri sedang terbaring sakit di tempat tidur), Franklin D. Roosevelt (yang memimpin Amerika Serikat menuju kemenangan dalam Perang Dunia II sementara ia sendiri terbatas ruang geraknya pada kursi roda), dan Helen Keller (yang berhasil mengatasi keadaannya yang cacat dan menjadi seorang dosen dan pengarang yang disegani).

Ada satu buku istimewa yang saya ingin Anda dan putra Anda baca. Saya yakin Anda berdua akan terkesan sewaktu membacanya. Buku itu ditulis oleh seorang wanita yang pada usia delapan belas tahun mengalami kecelakaan ketika berenang. Tulang lehernya patah sehingga ia menjadi cacat; ia lumpuh dari bagian leher ke bawah.

Nama wanita itu Joni Eareckson Tada; bukunya berjudul Joni. (Sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul "Joni di Balik Awan" terbitan Gandum Mas. -- Red) Di dalam buku itu, ia dengan jujur mengutarakan bagaimana Tuhan menolong dia mengatasi keterbatasan jasmaninya dan bagaimana Tuhan memimpin dirinya menjalami kehidupan yang aktif, produktif, dan memuaskan.


Sumber : Published in e-Konsel, 15 September 2007, Volume 2007, No. 144
Halaman:
11 -- 14
Judul Artikel:
Pertanyaan yang Sulit Akan Dijawab Oleh Luis Palau
Penulis Artikel:
--
Penerbit:
Lembaga Literatur Baptis (Yayasan Baptis Indonesia), Bandung 1999
Situs:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/144/
http://c3i.sabda.org/putra_saya_cacat

Masalah Penglihatan

DEFINISINYA

Ada dua jenis hambatan penglihatan pada anak, yaitu buta dan lemah penglihatan. Anak yang buta harus menggunakan huruf braille, sedangkan yang lemah penglihatannya tetap dapat memakai huruf biasa.

Di Amerika Serikat, apabila setelah diperiksa, ternyata penglihatan anak berada pada derajat 20 ke bawah, ia dimasukkan dalam kategori "anak yang buta". Sedangkan bila derajatnya mencapai 20 -- 200, ia masuk ke dalam kategori "anak yang lemah penglihatan".

DIAGNOSISNYA

Untuk mengatasi anak yang memiliki masalah dalam penglihatannya, sebagian sekolah biasanya memercayakannya kepada dokter mata. Pengamatan yang cermat di dalam kelas akan mempermudah menemukan anak yang bermasalah dalam penglihatannya. Apakah anak dapat melihat dengan jelas tulisan di papan tulis dari tempat duduknya? Ataukah mereka harus selalu maju ke depan? Apakah anak mengernyitkan mata setiap kali membaca? Apakah anak menonton televisi dengan jarak yang terlalu dekat? Dapatkah mereka melihat pemandangan yang terbentang di luar jendela?

PENYEBAB MASALAH

Kita perlu mengetahui bagaimana cara kerja mata secara normal. Fungsi mata manusia bagaikan kamera bagi otak. Bola mata merupakan lubang lensa pada kamera. Sementara itu, lapisan dinding bola mata atau retina merupakan penerima rangsangan warna maupun cahaya. Cahaya yang diterima melalui bola mata dapat dibiaskannya. Di belakang selaput pelangi terdapat "humor vitreous", yaitu suatu cairan yang mengisi ruangan di antara lensa mata dan selaput jala, yang juga berfungsi untuk merefleksikan sinar ke dalam jaringan serabut mata. Jaringan serabut ini berada di belakang bola mata sehingga memungkinkan kita untuk dapat melihat.

Kebutaan dapat disebabkan oleh virus, kecelakaan, keracunan, atau tumor, dan dapat juga diakibatkan oleh penyakit seperti kencing manis, sifilis, dan radang mata. Lingkungan yang bersih juga merupakan syarat bagi kesehatan mata.

JENIS PENYAKIT MATA

1.

Rabun jauh
Penyakit ini merupakan kelainan mata di mana bayangan berkas-berkas sinar jatuh di belakang selaput jala (retina) sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi kabur. Jenis penyakit ini dapat diperbaiki dengan memakai kacamata berlensa cembung.
2.

Rabun dekat
Kebalikan dari yang di atas, kelainan ini merupakan kelainan di mana bayangan berkas-berkas sinar jatuh di depan retina. Jarak kemampuan untuk melihat benda hanya pada kira-kira dua puluh meter. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memakai kacamata berlensa cekung.
3.

Silinder
Silinder terjadi karena adanya kelengkungan pada permukaan kornea mata sehingga cahaya tidak berpusat pada retina, tetapi pada dua titik yang berbeda. Setelah diperiksa penyakit ini dapat diatasi dengan memakai kacamata silindris.
4.

Kehilangan fokus/juling
Penyebab kelainan ini ialah gangguan pada sel-sel saraf sehingga letak hitam mata tidak tepat berada di tengah pada waktu melihat benda. Keadaan ini dapat terjadi sewaktu-waktu atau seumur hidup.
5.

Biji mata menggetar
Hal ini disebabkan adanya kerusakan pada otot penggerak biji mata sehingga fokus penglihatan tidak normal.
6.

Buta warna
Biasanya kelainan ini merupakan bawaan yang diturunkan, yang dimungkinkan oleh adanya anggota keluarga yang kekurangan lapisan pigmen pada kulit, rambut, atau mata. Buta warna disebabkan oleh kurangnya kepekaan retina terhadap cahaya sehingga tidak memiliki rasa melihat warna.
7.

Katarak
Kekeruhan yang terjadi pada lensa mata atau lapisan lensa mata yang menyebabkan daya melihat menjadi lemah serta dapat menjurus kepada kebutaan. Dalam ilmu kedokteran, keadaan ini dapat disembuhkan melalui pembedahan.


Sumber : http://c3i.sabda.org/masalah_penglihatan_0,Submitted by admin on Tue, 03/06/2008 - 00:00.

Anak-Anak yang Lemah Secara Fisik

Kelemahan fisik adalah kondisi di mana seorang anak memiliki keterbatasan kemampuan terutama secara fisik. Kelemahan ini biasanya dapat dilihat karena anak bergerak secara canggung atau karena anak membutuhkan peralatan khusus seperti kursi roda, alat penahan, atau anggota badan buatan yang harus digunakannya untuk dapat bergerak.

DEFINISI DAN PENYEBAB-PENYEBABNYA

Seseorang yang menyandang kelemahan fisik biasanya dikarenakan oleh kelemahan syaraf (misalnya, "cerebral palsy" atau epilepsi), kelemahan ortopedi (misalnya, tulang yang rapuh atau artritis), atau gangguan kesehatan lainnya (misalnya, penyakit jantung atau asma). Tingkat keterlibatannya mulai dari kelemahan yang ringan hingga sangat parah, sampai kelumpuhan yang memaksa seseorang untuk terus- menerus duduk (Joni and Friends, "All God`s Children", Woodland Hills, California: Joni and Friends, 1981). Anak-anak dengan kelemahan syaraf adalah anak-anak yang cacat karena sistem syaraf pusatnya berkembang dengan tidak sempurna atau terluka (Kirk, p. 351). Anak yang mengalami kelemahan ortopedi adalah mereka yang memiliki kelumpuhan yang mengganggu fungsi normal tulang, persendian, atau otot-otot. Anak-anak yang memiliki kelemahan seperti ini harus diperlakukan khusus oleh sekolah (Ibid., p. 367). Oleh sebab itu, pemodifikasian tata ruang kelas yang memungkinkan bagi kehadiran anak itu amatlah penting.

Kelemahan fisik bisa disebabkan oleh cacat lahir (misalnya, perkembangan yang tidak sempurna sebelum dilahirkan), penyakit (misalnya, "poliomyelitis" atau "muscular dystrophy"), atau kecelakaan (misalnya, jatuh, kecelakaan, atau trauma pada otak).

HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

Meskipun ada berbagai jenis kelemahan fisik, mulai dari yang ringan hingga yang berat, guru harus memerhatikan sejumlah panduan dasar ketika mengajar anak-anak yang memiliki kelemahan fisik ini.

1.

Kelemahan fisik tidak sama dengan lemah mental.
Sering kali kita menghubungkan fungsi tubuh dengan fungsi otak. Jangan beranggapan bahwa anak-anak yang menggunakan kursi roda juga menyandang kelemahan mental. Sebaliknya, anggaplah kemampuan mental anak ini normal kecuali Anda telah diberitahu sebelumnya. Dalam beberapa kasus, kelemahan mental bisa disertai dengan kelemahan fisik, namun tidak semua kasus seperti ini.
2.

Pelajarilah sebanyak mungkin kelemahan fisik yang disandang oleh anak-anak yang Anda ajar ini.
Orang tua dapat memberikan informasi yang diperlukan berkaitan dengan kelemahan dan kelebihan khusus yang dimiliki oleh anak mereka. Selain itu, temukanlah kemampuan anak yang dapat Anda harapkan. Untuk mengetahui hal ini, Anda dapat menyusun waktu kegiatan dan belajar yang paling sesuai untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Para spesialis--misalnya, guru, ahli terapi fisik, dan petugas yayasan-yayasan sosial--dapat memberikan keterangan tambahan. Jika ada pertanyaan, tanyakan pada mereka!
3.

Hindari tindakan yang terlalu melindungi.
Anak-anak yang lemah secara fisik memerlukan penenangan diri dan kestabilan, bukan menamengi mereka dari keterlibatan di kelas umum. Berikanlah kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi bersama anak-anak yang lain.
4.

Kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki kelemahan fisik tidaklah perlu.
Kalau memungkinkan, kelas khusus seperti itu tidak perlu diadakan, kecuali jika ada cacat tambahan yang memerlukan kelas khusus (juga termasuk di kelas SM).

Dari apa yang dikemukakan di atas, ingatlah bahwa mereka adalah anak-anak yang kebetulan memiliki kelemahan fisik. Mereka memiliki keinginan, kebutuhan, dan perhatian yang sama seperti teman-teman mereka lainnya. Tuhan melihat "kelemahan" sampai kebutuhan rohani mereka. Sebagai guru, kita harus mengikuti teladan-Nya.



sumber :Submitted by admin on Tue, 03/06/2008 - 00:00.,http://c3i.sabda.org/anak_anak_yang_lemah_secara_fisik_0