Kepedulian keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perlindungan dan
pelayanan pendidikan kepada anak penting dilakukan. Tidak hanya pada anak dengan kondisi
normal tetapi juga untuk anak-anak yang memiliki permasalahan dalam perilaku kesehariannya.
Hal ini terungkap dalam Seminar Interaktif Psikologi dengan tema menangani anak
berkebutuhan khusus (ABK) dan gifted, Kamis (23/7) di Aula Dinas Kesehatan Propinsi
Kalimantan Barat. Pembicara dalam seminar ini, Imam Affandi, mengatakan berbagai kasus
tentang berbagai permasalahan yang terkait dengan perilaku dan permasalahan anak, seperti
autis, retaldarsi mental (down syndrome), gifted dan kreatif (talent).
“Namun kenyataannya di Indonesia perhatian masyarakat maupun para ahli terhadap anak
autis maupun gifted masih sangat minim dan sifatnya masih insidental,” ucap Imam.
Terkait dengan masalah anak berkebutuhan khusus (ABK), perlu mendapat perhatian serius
dari semua pihak. “Mereka memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan
kekhususannya,” paparnya.
Imam menyebutkan kategori ABK ada dua yaitu ABK yang bersifat permanen dan temporer.
ABK yang bersifat permanen ini antara lain akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang
cacat). Sedangkan ABK yang bersifat temporer seperti anak yang mengalami hambatan belajar
dan hambatan perkembangan.
“Anak-anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat
sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen,” terangnya.
Ia mengharapkan sikap acceptance (menerima, red.) merupakan yang baik untuk dimiliki atau
dikembangkan oleh orangtua. Sikap seperti ini, menurut Imam, ternyata memberikan kontribusi
kepada pengembangan kepribadian anak yang sehat. Tidak ubahnya dengan anak-anak yang
lain, anak gifted juga harus diberikan pola asuh yang terbaik dari orang tua mereka.
Sementara itu, Wakil Walikota Paryadi ketika membuka acara seminar mengatakan
masyarakat pihak terkait lainnya harus tetap mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak
dan memberikan perlindungan terhadap kelangsungan hidup anak.
“Hal ini dapat terwujud apabila melibatkan instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat
(LSM), organisasi pemerhati anak dan organisasi anak serta remaja,” kata Paryadi.
Sumber : Ditulis oleh Eko Susilo
Jumat, 24 Juli 2009 09:48
http://www.borneotribune.com/pdf/pontianak-kota/anak-berkebutuhan-khusus-perlu-perhatian.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar