Minggu, 28 Maret 2010

Terapi Autis dengan Lumba-Lumba

LUMBA-LUMBA bukan saja sebagai hewan yang bisa menghibur. Hewan cerdas ini temyata bisa dijadikan sebagai terapi bagi mereka yang menderita gangguan saraf, khususnya anak-anak autisme. Terapi lumba-lumba (dolphin therapy)diklaim bisa meningkatkan kemampuan berbicara dan keahlian motorik anak-anak penderitaautisme.

Selain benteng Maetello. salah satu yang menjadi daya tarik dari Pulau Bidadari, adalah tempat penangkaran lumba-lumba. Nah. lumba-lumba yang ada di pulau Bidadari ini ternyata bisa digunakan sebagai klinik Dolpin untuk penyakit autis. Anak-anak yang mengalami gangguan komunikasi, perilaku, dan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain ini akan diajak bermain bersama dengan lumba-lumba sebagai proses terapinya.Kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Sti-mulasi-stimulasi yang dilakukan lumba-lumba pada panca Indra memungkinkan dicapainya kesembuhan bagi manusia. Hal Ini disebabkan suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan menjadi lebih nang. Sentuh-annya merangsang saraf sensoris. lendengaran. penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba. anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar.

Dr Ken Mirten, ilmuwan di Earthtrust. Hawaii. Amerika Serikat, mengatakan bahwa lumba-lumba mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam. Hewan ini mampu mengirimkan serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. "Nah. kemampuan menghasilkan sonar yang digelarkan di dalam alr ini temyata dapat berfungsi untuk merangsang dan memberikan stimulus anak yang autis agar bisa fokus. tutur M Husin Munir. Manager Pulau Bidadari.Di Amerika Serikat, penyembuhan menggunakan lumba-lumba untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, sudah tidak asing lagi. Sejak tahun 1978. metode penyembuhan dengan hewan ini sudah dikembangkan DR David Nathanson. PhD. psikolog yang telah menggeluti dunia lumba-lumba lebih dari 30 tahun. Psikolog yang membuka terapi di Ocean World. Fort Lauderdale. Florida. Amerika Serikat itu mulanya menstimulasi panca Indra anak-anak yang mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental dengan mengajak mereka bermain dan berenang bersama lumba-lumba.

Hasilnya, anak-anak tersebut mampu menerima stimulasi dan mulai memberi perhatian. Dalam perkembangannya, lumba-lumba tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak down syndrome atau autis saja, juga untuk orang dewasa yang mengalami gangguan mental dan sensor saraf indra.Kenapa lumba-lumba? Makhluk ajaib ini bisa dijadikan sarana terapi karena mampu berinteraksi dengan manusia. Penelitian VUchis Quiroz dari Medical Director Aragon Aquarium. Mexico City. Meksiko menunjukkan ketika berinteraksi dengan lumba-lumba. hormon endorfin pada manusia meningkat. Hal ini membuat terbentuknya keseimbangan antara otak kiri dan kanan. Gelombang ultrasonik. hasil stimulasi suara suara atau sonar yang dikeluarkan lumba-lumba. mampu diterima dengan sempurna oleh manusia.

Terapi menggunakan lumba-lumba ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas sensori anak. Dalam program yang berlangsung di kolam renang dengan lumba-lumba ini. terapis akan membantu anak-anak autisme. Anak-anak akan diminta untuk berenang, menyentuh, memberi makan atau mengelus-elus hewan tersebut. Selanjutnya terapis akan bekerja dan membantu pada area tertentu seperti berbicara, bertingkah dan keahlian motorik. Terapis akan mendisain program sesuai dengan kebutuhan anak.Hasilnya terapi lumba-lumba ini bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Di Pulau Bidadari, ada dua lumba-lumba yang dijadikan media terapi autis ini. Lumba lumba itu di berinama Mia dengan usia 12 tahun dan berat badannya 100 Kg. yang kedua Yosi dengan umur 12 tahun dan di dengan berat badannya 75 kg. "Adanya lumba-lumba di pulau bidadari memang dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjungi pulau bidadari sekaligus terapi.jelas Husni.Untuk melakukan terapi dengan lumba-lumba di Pulau Biadari ini. pasien diwajibkan datang sepuluh hari berturut-turut. Hari pertama hingga ketiga diisi dengan pengenalan situasi dan lumba-lumbanya itu sendiri. Pasien belum diizinkan untuk turun ke kolam. Mereka hanya boleh bermain air dan sesekali memegang tubuh lumba-lumba dari pinggir kolam.

Pada hari keempat hingga kesepuluh, pasien diajak bermain dengan seekor lumba-lumba. melibatkan seorang terapis dan pelatih hewan mamalia ini. Lumba-lumba Permainan yang dilakukan antara lain berenang bersama, duduk di punggung, atau memberi ikan kecil kepada lumba-tamba. Setelah sepuluh hari terapi, perkembangan pasien dievaluasi. Dari hasil Itulah, bisa diketahui rencana terapi ke depan, sekaligus jenisnya atau Interaksi lanjutan. "Biasanya, program pertama selama sepuluh hari tersebut memberikan hasil positif bagi pasien-pasiennya," jelas Husni.

Sumber : http://bataviase.co.id/detailberita-10505369.html
12 Jan 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar